KLIK SAJA – Pernahkah kita bertanya sejak kapan perayaan Tahun Baru Masehi seperti menghitung mundur, meniupkan terompet bahkan hingga mabuk-mabukkan menjadi tradisi di Indonesia.
Sepintas budaya tradisi tersebut sama sekali tidak mencerminkan tradisi asli masyarakat Indonesia, lalu bagaimana sejarahnya tradisi budaya barat ini masih eksis hingga kini.
Jika kita bicara Tahun Baru, maka sudah pasti terkait dengan kalender, sebagai contoh bagi yang menggunakan kalender Tiongkok, maka ia merayakan Tahun Baru Imlek, lalu apabila bagi umat muslim merayakan Tahun Baru Hijriyah.
Lalu kenapa perayaan Tahun Baru Masehi menjadi sangat spesial dan dirayakan hampir seluruh penduduk dunia.
Hal tersebut dikarenakan hampir seluruh negara di dunia menggunakan kalender Masehi yang memakai standar Gregorian.
Namun pertanyaannya untuk menjadi renungan bagi kita, kenapa harus dirayakan secara besar-besaran, berbiaya besar bahkan dipenuhi dengan hal foya-foya.
Mari kita pelajari sejarahnya kenapa hal ini bisa menjadi tradisi di Indonesia hingga kini.
Sebelum jaman kolonial, sudah jelas tidak ada perayaan Tahun Baru Masehi di Nusantara, karena perayaan ini sangat terkait dengan kedatangan bangsa Barat yang membawa budaya ini.
Pada jaman itu, bagi masyarakat Nusantara, perayaan besarnya adalah ‘Syawalan’ alias ‘Lebaran’ yang dirayakan secara besar-besaran, utamanya dalam lingkup keraton kerajaan atau kesultanan.
Bahkan ketika Belanda mula-mula berkuasa di Nusantara, sering salah kaprah menganggap tradisi Idul Fitri di kalangan muslim adalah perayaan Tahun Baru-nya orang pribumi.
Ketika jaman VOC, perayaan Tahun Baru Masehi hanya dalam lingkup internal VOC saja, itu pun tidak dilaksanakan secara besar-besaran.
Pada jaman itu, perayaan hanya dilaksanakan oleh masing-masing kelompok keagamaan pendatang Eropa saja dan tidak dirayakan dengan meriah.
Baru ketika di jaman Hindia Belanda berkuasa, perayaan Tahun Baru Masehi mulai dirayakan secara meriah di kota-kota besar.
Perayaan saat itu sudah tidak lagi melingkupi kelompok internal keagamaan Nasrani saja, tetapi bebas dirayakan oleh siapa saja.