KLIK SAJA - Selama musim dingin yang suram tahun 1914, di tengah lumpur, darah, dan kekacauan Perang Dunia Pertama, serangkaian gencatan senjata yang luar biasa terjadi secara spontan di sepanjang Front Barat.
Selama periode Natal yang luar biasa itu, pihak tentara kerajaan Inggris dan tentara Jerman yang saling berhadapan dalam perang parit tersebut memutuskan untuk meletakkan senjata mereka.
Pada Malam Natal 1914, para tentara Inggris dari Brigade Senapan ke-5 London, yang bertugas berjaga sambil menatap dengan cemas ke seberang gurun tak bertuan menuju parit pertahanan Jerman pada front barat.
Baca Juga: Mengenal Simo Häyhä, Sang Sniper Paling Mematikan Dalam Sejarah
Mereka telah mengalami kekerasan brutal, pertumpahan darah, dan kehancuran selama berbulan-bulan yang menjadi ciri Perang Dunia Pertama, ketika sesuatu yang luar biasa terjadi.
Namun hal tersebut tiba-tiba pada malam Natal tahun itu.
Seketika pada malam itu, kedua pihak yang berseteru, menyalakan lampu-lampu dan saling menyanyikan lagu-lagu religius.
Suara-suara itu terdengar di tengah kesunyian tanah tak bertuan, lagu-lagu yang akrab menjembatani batasan bahasa, pengingat musikal tentang kemanusiaan bersama pada malam Natal.
Malam itu adalah malam spontanitas terjadinya Gencatan Senjata Natal 1914 pada perang dunia I yang terjadi di beberapa front barat seperti di Perancis dan Belgia.
Gencatan senjata memang hanya berlangsung sebentar, namun hal tersebut memberikan banyak arti kemanusiaan pada perang yang dianggap paling terburuk dalam sejarah manusia itu.
Karena parit-paritnya sangat dekat, para tentara dari kedua belah pihak dapat saling berteriak menyapa, memulai percakapan saat gencatan senjata tersebut.
Gencatan senjata tersebut memberi waktu bagi para prajurit untuk mengambil jenazah dari wilayah tak bertuan dan memberikan pemakaman yang layak bagi rekan-rekan yang gugur.
Para lelaki yang beberapa jam sebelumnya mencoba saling membunuh saling bertukar rokok, makanan, dan suvenir dari rumah.