Kini Turki akan bernapas lega, karena pengungsi Suriah bisa kembali ke negara asalnya.
Rusia
Rusia jelas sudah memiliki hubungan puluhan tahun dengan pemerintahan Assad, dan memiliki pangkalan militer di sana sebelum perang saudara.
Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan kehadiran negaranya di Suriah, dan dukungan Assad, untuk menantang kekuatan dan dominasi Barat di wilayah tersebut.
Pada tahun 2015, Rusia melancarkan kampanye udara dan mengirim ribuan tentara untuk mendukung rezim Assad, serta untuk sebagai basis militer di Timur Tengah.
Baca Juga: Mengenal Kiprah Al-Jawlani, Sang ‘Fidel Castro-nya’ Suriah
Ini menandai tahap penting dalam upaya Rusia untuk menegaskan dirinya sebagai kekuatan global, yang sebelumnya memfokuskan upayanya pada negara-negara yang pernah tergabung dalam blok Soviet.
Namun, perang di Ukraina sejak 2022 menyita perhatian Rusia, yang berkontribusi terhadap kekalahan cepat militer Suriah terhadap kelompok pemberontak pada akhir November dan awal Desember.
Assad dan keluarganya diberikan suaka di Moskow setelah melarikan diri dari Damaskus, masa depan Rusia di Suriah masih tergantung sikap pemerintahan baru di sana.
Amerika Serikat
Setelah protes pro-demokrasi Suriah pada tahun 2011 dihadapi dengan kekerasan, presiden AS saat itu Barack Obama mendukung penentangan terhadap pemerintahan Assad.
AS memberikan dukungan militer kepada apa yang dianggapnya kelompok pemberontak moderat dan melakukan intervensi militer untuk memerangi kelompok Negara Islam (IS) pada tahun 2014.
Setelah pemerintahan Assad jatuh, Presiden Joe Biden perintahkan untuk melancarkan puluhan serangan udara terhadap kamp-kamp dan operasi ISIS di Suriah tengah untuk memastikan ISIS tidak dapat mengambil keuntungan dari situasi yang tidak stabil.
Sementara Presiden terpilih Donald Trump, yang akan menjabat pada bulan Januari, mengatakan Suriah adalah "kekacauan" yang harus dihindari AS.