KLIK SAJA - Fenomena tutupnya gerai-gerai ritel modern belakangan ini bukan sekadar isu sesaat, melainkan cerminan dari pergeseran mendalam dalam perilaku konsumen dan dinamika ekonomi nasional.
Nama-nama besar seperti Transmart, Alfamart, GS Supermarket, hingga Seven Eleven, satu per satu harus merelakan sejumlah gerainya tutup—bahkan permanen.
Sebagai contoh konkret, Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), Anggara Hans Prawira, mencatat sebanyak 400 gerai Alfamart tutup sepanjang tahun 2024.
Tak berhenti di situ, pada kuartal I-2025, 109 gerai kembali ditutup. Totalnya? Sudah 509 gerai yang berhenti beroperasi hanya dalam waktu kurang dari dua tahun.
Situasi serupa menimpa GS Supermarket, jaringan ritel asal Korea Selatan, yang pada 31 Mei 2025 resmi menutup seluruh operasionalnya di Indonesia dan diambil alih oleh investor lokal.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengemukakan sejumlah alasan yang cukup logis: pertama, toko ritel modern hanya menawarkan transaksi jual-beli tanpa “experience” atau nilai tambah seperti hiburan, kenyamanan, dan interaksi sosial.
Kedua, pola konsumsi masyarakat berubah drastis. Jika dulu orang berbelanja bulanan di supermarket, kini mereka lebih memilih membeli kebutuhan harian di warung-warung terdekat, bahkan di warung Madura 24 jam yang jauh lebih adaptif dan dekat dengan konsumen.
Ketiga, ritel modern dianggap gagal mengakomodasi fungsi sosial seperti tempat makan, berkumpul, atau hiburan yang kini menjadi daya tarik tersendiri.
Namun, penjelasan Mendag ini tak sepenuhnya menjawab realita di lapangan. Transmart, misalnya, justru menawarkan konsep belanja sekaligus hiburan dengan kehadiran wahana permainan dan foodcourt.
Sayangnya, tetap saja banyak gerainya gulung tikar. Ini mengindikasikan ada faktor yang jauh lebih fundamental, yaitu penurunan daya beli masyarakat.
Toko ritel modern memiliki struktur biaya operasional tinggi: mulai dari sewa tempat, biaya logistik, pendingin udara, hingga sistem pergudangan.
Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat beralih ke opsi yang lebih hemat, seperti belanja online atau ke warung terdekat yang menawarkan harga lebih murah dan fleksibilitas pembayaran.
Di sisi lain, UMKM dan warung-warung kecil mampu menawarkan personalisasi layanan dan harga yang bersaing, menjadikannya lebih relevan bagi konsumen masa kini.
Ditambah lagi, platform e-commerce dan layanan antar instan memberikan kemudahan tanpa harus keluar rumah.