Negeri Ini Sedang Tak Baik-Baik Saja, Pengangguran Indonesia Tertinggi di ASEAN

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Senin, 5 Mei 2025 | 20:52 WIB
Suasana lamaran kerja yang ricuh (berbagai sumber)
Suasana lamaran kerja yang ricuh (berbagai sumber)

KLIK SAJA - Pemandangan antrean panjang dan kerumunan pelamar kerja dalam proses walk-in interview yang viral di media sosial belakangan ini bukan sekadar potret sesaat—ia mencerminkan kenyataan getir dunia kerja di Indonesia saat ini.

Banyaknya pelamar yang rela berdesakan hingga menimbulkan kericuhan memperlihatkan betapa sulitnya mencari pekerjaan di tengah persaingan yang semakin ketat.

Kondisi ini hampir merata di seluruh daerah, dimana banyak lulusan SMA maupun Sarjana yang mengeluhkan betapa sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai bidangnya.

Fakta yang lebih mencemaskan adalah pernyataan dari Ivan Lilin Suryono, Peneliti Ahli Muda di Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menyebut bahwa tingkat pengangguran Indonesia adalah yang tertinggi di kawasan ASEAN.

Data menunjukkan bahwa angka pengangguran di Indonesia mencapai 4,9 persen pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi 5,1 persen di tahun 2025, menurut laporan IMF.

Angka ini jelas menempatkan Indonesia di bawah negara-negara tetangga seperti Filipina, Vietnam, dan Thailand, yang berhasil menjaga angka pengangguran mereka lebih rendah.

Fenomena ini menjadi alarm serius bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis, bukan hanya demi stabilitas ekonomi tetapi juga demi masa depan generasi muda.

Ivan menekankan bahwa kunci penanganan pengangguran adalah investasi besar-besaran dalam penciptaan lapangan kerja.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya reformasi pendidikan dan pelatihan yang selaras dengan kebutuhan industri saat ini.

Ketimpangan antara keterampilan lulusan pendidikan formal dan permintaan dunia kerja membuat banyak pencari kerja kesulitan untuk diterima.

Pelatihan berbasis keterampilan praktis dan adaptif terhadap teknologi terbaru perlu diperluas dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

"Perkembangan industri sangat pesat dan kebutuhannya pun semakin meningkat," ujar Ivan.

Hal ini menuntut dunia pendidikan untuk tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga membekali siswa dengan kompetensi nyata seperti kemampuan teknis, pemecahan masalah, serta etos kerja yang tinggi.

Tak kalah penting, Ivan juga mendorong generasi muda untuk mengubah pola pikir: dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta kerja.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X