Perubahan iklim tidak hanya mengganggu proses belajar-mengajar, tetapi juga memperburuk krisis pembelajaran global.
Infrastruktur sekolah yang rusak, akses pendidikan yang terhambat, dan kondisi belajar yang tidak aman membuat anak-anak kehilangan konsentrasi, daya ingat, dan kesehatan mental mereka terganggu.
Sementara di daerah-daerah rentan, penutupan sekolah jangka panjang meningkatkan risiko pernikahan anak dan pekerja anak, terutama bagi anak perempuan yang lebih rentan putus sekolah dan mengalami kekerasan berbasis gender.
Secara global, sistem pendidikan sudah gagal memenuhi kebutuhan jutaan anak. Kurangnya guru terlatih, ruang kelas yang padat, dan ketimpangan kualitas pendidikan semakin diperparah oleh ancaman iklim.
Maka jika tanpa tindakan cepat dan terkoordinasi, dampak perubahan iklim akan semakin merusak masa depan generasi muda.
UNICEF menyerukan langkah-langkah darurat untuk mengatasi krisis ini, termasuk memperkuat infrastruktur sekolah, meningkatkan kesiapsiagaan bencana, dan memastikan akses pendidikan yang inklusif dan aman bagi semua anak.
Jika tidak, jutaan anak akan terus kehilangan hak mereka untuk belajar dan berkembang, mengancam masa depan mereka serta kemajuan global.***