KLIK SAJA – Sebagaimana kita ketahui posisi UMKM di Indonesia memiliki peran sentral dalam memajukan sektor industri kecil.
Artinya UMKM punya peran yang sangat siginifikan terhadap perekonomian Indonesia, yang memang masih didominasi industri skala kecil.
Dilansir dari laman web Kemenkop dan UKM RI, dari sekitar 65,5 juta UMKM di Indonesia pada tahun 2023, penyerapan tenaga kerja di sekotor UMKM mampu menembus 97% dari total tenaga.
Sektor ini juga menyumbang sekitar 99 persen dari total unit usaha di Indonesia. UMKM juga memberi kontribusi yang sangat signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Kontribusinya mencapai 60,51 persen.
Namun sayangnya, UMKM di Indonensia belum banyak yang terhubung ke dalam rantai pasok industri dan jauh dari akses inovasi teknologi serta akses pembiayaan.
Hingga saat ini, UMKM yang sudah masuk dalam rantai pasok global (global value chain/GVC) baru sekitar 4,1 persen, masih sangat kecil sekali.
Minimnya UMKM yang masuk ke dalam rantai pasok global di antaranya karena UMKM di Tanah Air masih berjalan secara independen, bahkan bersaing dengan industri.
Hal Ini menjadi salah satu penyebab yang membuat Indonesia selama 30 tahun terjebak middle income trap.
Maka dari itu, agar Indonesia bisa menjadi negara maju, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengatakan UMKM harus didorong masuk ke rantai pasok industri nasional, seperti yang telah terjadi di Jepang, Korea Selatan, dan Cina.
Masuknya UMKM ke rantai pasok industri akan membuat mereka masuk ke pasar global apabila industrinya masuk ke global.
Faktor itulah yang membuat ekspor UMKM di ketiga negara tersebut juga besar.
Untuk mendorong UMKM masuk ke rantai pasok industri, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan: