“Saya tegaskan di sini bahwa keamanan dari kru, keamanan dari alutsista dalam hal ini helikopter atau pesawat, serta keamanan dari masyarakat itu yang jadi prioritas kami,” tegasnya.
TNI juga mengatur ritme distribusi agar tidak mengorbankan keselamatan pada medan yang rentan.
“Jadi, evaluasi tetap bagaimana percepatan pendistribusian logistik, tapi tetap tidak mengabaikan sisi keamanan,” sambungnya.
Kondisi medan yang lembek, terbuka, atau penuh puing membuat proses distribusi jauh dari mudah.
Karena itu, setiap penerjunan harus mempertimbangkan risiko turbulensi puing, jarak aman, hingga kondisi helikopter.
Keputusan untuk menunda atau mengubah rute sering kali diambil demi menjaga keselamatan seluruh personel.
Penentuan Titik Airdrop Harus Melalui Pertimbangan Medan yang Ketat
Tidak semua lahan kosong bisa dijadikan lokasi penjatuhan bantuan.
Freddy menjelaskan bahwa drop zone harus memenuhi syarat tertentu agar aman bagi pesawat maupun masyarakat.
“Kita butuh dropping zone yang layak, sementara di daerah-daerah terisolir itu banyak tempat terbuka, medan terbuka, tapi tidak layak,” terangnya.
Di banyak lokasi, tanah tampak luas seperti lapangan, tetapi kondisi fisiknya lembek dan tidak stabil.
“Jadi, kelihatan luas seperti lapangan, tapi tanahnya lembek-lembek kemudian lunak, tidak layak untuk didarati,” lanjutnya.
Selain itu, puing-puing bangunan dapat terangkat oleh baling-baling helikopter dan menciptakan bahaya baru.
Artikel Terkait
Dari Evakuasi Korban hingga Kelangkaan Beras, Potret Lengkap Krisis Longsor dan Banjir Tapteng!
Dari Engineer Migas 5 Hari Tak Tidur hingga Menkeu Terbaik, Begini Perjalanan Liar Purbaya Yudhi Sadewa!
PT Toba Pulp Lestari Milik Siapa? Apa Hubungannya dengan Bencana Banjir dan Longsor di Sumatra?
DPR Memanas! Usman Husin Minta Menteri Kehutanan Mundur di Tengah Sorotan Banjir Sumatera
Firman Soebagyo hingga Puan, Bantuan Bencana Jangan Jadi Ajang Pencitraan