internasional

Perang Intelejen di Nepal, India Berhasil Gagalkan Rencana Barat dan Menempatkan Sekutunya di Puncak Kekuasaan

Sabtu, 20 September 2025 | 09:16 WIB
Perang Intelejen di Nepal, India Berhasil Gagalkan Rencana Barat dan Menempatkan Sekutunya di Puncak Kekuasaan

False-flag operation kapitalisme Barat menggunakan wajah rakyat sebagai kedok untuk melanggengkan kepentingan kapital transnasional.

Laporan Freedom House (2024) bahkan menegaskan bahwa lebih dari 80 negara berkembang mengalami penurunan stabilitas akibat intervensi asing non-militer.

Sementara Bank Dunia (2023) mencatat kenaikan 40% aliran dana transnasional yang diarahkan ke isu climate justice dan HAM, yang seringkali menjadi medium mobilisasi politik.

Dengan demikian bangsa-bangsa berkembang, terutama di Asia Tenggara perlu memahami, bahwa apa yang tampak sebagai protes sosial atau gerakan moral sering kali adalah bagian dari operasi intelijen global.

Baca Juga: Panas di Himalaya! DPR Nepal Resmi Dibubarkan, Pemilu Baru Bakal Digelar Pada 2026

Sejarah Lenin memberi pelajaran bahwa ideologi dapat menggerakkan revolusi untuk mengganti tatanan.

Sejarah kontemporer memperlihatkan bahwa kapitalisme Barat juga menggunakan metode serupa, tetapi dengan tujuan untuk mempertahankan hegemoni.

Baca Juga: Penggulingan Kekuasan Nepal Oleh Gen Z Ternyata Terinspirasi Aksi Demonstrasi di Indonesia

Indonesia dan Nepal adalah contoh nyata bagaimana strategi mereka bekerja di abad ke-21.

Kesimpulannya, jika Lenin berjuang menghancurkan kapitalisme demi masyarakat tanpa kelas, maka Amerika Serikat memimpin revolusi palsu untuk mempertahankan kapitalisme dalam wajah baru.

“Operasi Bendera Proletar Palsu” adalah realitas geopolitik yang harus diwaspadai, agar bangsa-bangsa Asia Tenggara tidak terjebak dalam permainan global yang bersembunyi di balik topeng rakyat marjinal.***

Halaman:

Tags

Terkini