False-flag operation kapitalisme Barat menggunakan wajah rakyat sebagai kedok untuk melanggengkan kepentingan kapital transnasional.
Laporan Freedom House (2024) bahkan menegaskan bahwa lebih dari 80 negara berkembang mengalami penurunan stabilitas akibat intervensi asing non-militer.
Sementara Bank Dunia (2023) mencatat kenaikan 40% aliran dana transnasional yang diarahkan ke isu climate justice dan HAM, yang seringkali menjadi medium mobilisasi politik.
Dengan demikian bangsa-bangsa berkembang, terutama di Asia Tenggara perlu memahami, bahwa apa yang tampak sebagai protes sosial atau gerakan moral sering kali adalah bagian dari operasi intelijen global.
Baca Juga: Panas di Himalaya! DPR Nepal Resmi Dibubarkan, Pemilu Baru Bakal Digelar Pada 2026
Sejarah Lenin memberi pelajaran bahwa ideologi dapat menggerakkan revolusi untuk mengganti tatanan.
Sejarah kontemporer memperlihatkan bahwa kapitalisme Barat juga menggunakan metode serupa, tetapi dengan tujuan untuk mempertahankan hegemoni.
Baca Juga: Penggulingan Kekuasan Nepal Oleh Gen Z Ternyata Terinspirasi Aksi Demonstrasi di Indonesia
Indonesia dan Nepal adalah contoh nyata bagaimana strategi mereka bekerja di abad ke-21.
Kesimpulannya, jika Lenin berjuang menghancurkan kapitalisme demi masyarakat tanpa kelas, maka Amerika Serikat memimpin revolusi palsu untuk mempertahankan kapitalisme dalam wajah baru.
“Operasi Bendera Proletar Palsu” adalah realitas geopolitik yang harus diwaspadai, agar bangsa-bangsa Asia Tenggara tidak terjebak dalam permainan global yang bersembunyi di balik topeng rakyat marjinal.***
Artikel Terkait
Kontroversi dan Halu! Donald Trump Ganti Nama Departemen Pertahanan Jadi Departemen Perang
Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba Undurkan Diri, Ungkap Masalah Tarif AS Sebagai Penyebabnya
Israel Lakukan Serangan Udara di Qatar, Tewaskan Sejumlah Anggota Hamas
Dunia Internasional Kecam Serangan Udara Israel ke Wilayah Qatar
Aksi Anarkis di Kathmandu, Demo Berakhir dengan Penjarahan dan Pembakaran Gedung Parlemen Nepal