KLIK SAJA – Jika dalam pemberitaan internasional, khususnya krisis perang, dalam beberapa tahun terakhir kita terfokus pada konflik Ukraina-Rusia atau Israel-Palestina di Gaza.
Namun jarang yang mengetahui bahwa ada konflik perang serupa yang terjadi di muka bumi ini berlangsung hingga sekarang, dimana jumlah korbannya melebihi kesemuanya.
Konflik kemanusiaan yang dimaksud adalah Perang Saudara Sudan.
Perang saudara di Sudan dimulai pada 15 April 2023 antara dua faksi yang saling bersaing dari pemerintahan militer Sudan.
Konflik ini melibatkan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, melawan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang dipimpin Mohamed Hamdan Dagalo (lebih dikenal sebagai Hemedti), sekaligus pimpinan koalisi Janjaweed.
Beberapa kelompok bersenjata kecil juga turut terlibat. Pertempuran terutama terjadi di ibu kota Khartoum, tempat perang pertama kali pecah dengan pertempuran besar-besaran, serta di wilayah Darfur.
Banyak warga sipil di Darfur dilaporkan tewas dalam pembantaian Masalit, yang digambarkan sebagai bentuk pembersihan etnis bahkan genosida.
Situasi di Sudan kini disebut sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan hampir 25 juta orang mengalami kelaparan ekstrem, melebihi krisis di Gaza.
Pada 7 Januari 2025, Amerika Serikat menyatakan bahwa RSF dan milisi sekutunya telah melakukan genosida.
Sejak merdeka pada 1956, Sudan memang terus dilanda ketidakstabilan, ditandai dengan 20 kali upaya kudeta, pemerintahan militer yang berkepanjangan, dua perang saudara besar, serta tragedi genosida di Darfur.
Perang kali ini pecah akibat ketegangan integrasi RSF ke dalam militer pasca kudeta 2021, dimulai dengan serangan RSF terhadap sejumlah fasilitas pemerintah di Khartoum dan kota-kota lain.
Wilayah ibu kota pun segera terbagi antara dua kubu, hingga al-Burhan memindahkan pemerintahannya ke Port Sudan.
Upaya internasional, termasuk Deklarasi Jeddah Mei 2023, gagal menghentikan pertempuran. Berbagai kelompok pemberontak ikut masuk ke medan perang: SPLM–North faksi al-Hilu menyerang SAF di selatan; gerakan Tamazuj bergabung dengan RSF; sementara SAF mendapat dukungan dari faksi Sudan Liberation Movement serta Justice and Equality Movement.