KLIK SAJA – Pasca gencatan senjata antara Israel dan Iran, citra negara Zionis saat ini mulai menurun dan mulai terkuak segala kejahatan perangnya.
Dimana data-data kekerasan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Israel mulai tersebar luas dan kian mendapat hujatan hebat dari komunitas Internasional.
Pada artikel ini, kita akan mencuplik ‘hanya sekelumit’ kejahatan perang yang dilakukan militer Israel beberapa tahun terakhir.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel telah meningkatkan kekerasannya di Tepi Barat yang diduduki, dengan membunuh sekitar 1.000 warga Palestina.
Sementara dunia teralihkan oleh perang genosida Israel di Gaza — yang telah menewaskan lebih dari 56.331 orang dan membuat hampir seluruh populasi berjumlah 2,3 juta jiwa mengungsi.
Israel secara agresif meningkatkan serangan brutalnya di Tepi Barat, sekaligus memilih bungkam terhadap aksi kekerasan para pemukim Israel yang menyerang dan membunuh warga desa Palestina.
Israel mulai membangun tembok pemisah pada tahun 2002 untuk memisahkan Yerusalem dari wilayah Tepi Barat lainnya.
Tembok ini membelah komunitas Palestina dan lahan pertanian mereka, serta dikelilingi oleh pemukiman ilegal yang mencekik wilayah Tepi Barat.
Para pemukim melancarkan serangan mendadak yang brutal ke kota-kota Palestina: membakar properti, menyerang warga, dan berupaya mengusir mereka dari rumah mereka sendiri.
Di saat yang sama, pasukan keamanan Israel mengepung dan menggempur kamp-kamp pengungsi secara intens, memaksa lebih banyak orang meninggalkan rumah mereka dan melarang mereka untuk kembali.
Banyak pemukim juga telah diberi senjata semi-otomatis dan “diintegrasikan” ke dalam pasukan Israel di Tepi Barat, sebagai kompensasi atas kekurangan personel akibat pengerahan besar-besaran untuk perang di Gaza.
Kebijakan ini mengaburkan batas antara pasukan keamanan dan pemukim, sekaligus memberi kekuasaan kepada para pemukim untuk meningkatkan kekerasan terhadap warga Palestina.
Menurut Peace Now — sebuah organisasi nirlaba Israel yang memantau perampasan tanah di Palestina — pada tahun 2024, Israel menyita lebih banyak tanah Palestina di Tepi Barat dibandingkan gabungan 20 tahun sebelumnya.
Menteri Keuangan Israel dari kubu sayap kanan, Bezalel Smotrich, memimpin langkah ini setelah mengambil alih kendali atas "Administrasi Pemukiman" yang baru dibentuk pada Februari 2023.