Serangan Israel ke RS Indonesia Pengaruhi Layanan Medis di Gaza Utara

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Senin, 19 Mei 2025 | 18:58 WIB
Kondisi terkini RS Indonesia di Gaza yang digempur Israel (MER-C)
Kondisi terkini RS Indonesia di Gaza yang digempur Israel (MER-C)

KLIK SAJA - Mohammed Salha, Direktur Rumah Sakit swasta al-Awda di Gaza utara, mengatakan bahwa penutupan Rumah Sakit Indonesia akan berdampak besar terhadap pelayanan yang dapat diberikan oleh fasilitasnya.

Ia menjelaskan bahwa RS al-Awda bergantung pada RS Indonesia untuk pasokan oksigen serta unit perawatan intensif (ICU).

Salha menambahkan bahwa telah terjadi pengeboman di dekat rumah sakitnya pada malam hari, yang menyebabkan “kerusakan besar” pada fasilitas tersebut. Staf kini tengah berupaya memperbaiki kerusakan dengan cepat.

Kerusakan terbaru pada fasilitas medis ini terjadi setelah serangan udara Israel menghantam dua pusat medis terbesar di Khan Younis, yaitu Kompleks Medis Nasser dan Rumah Sakit Eropa.

Israel menuduh Hamas menyembunyikan pusat komando dan kendali di bawah Rumah Sakit Eropa, dan menyatakan bahwa mereka telah melakukan “serangan presisi” terhadap “teroris Hamas.”

Media Israel melaporkan bahwa target serangan tersebut adalah tokoh senior Hamas, Mohammed Sinwar — adik dari mantan pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar.

Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara bukan sekadar fasilitas medis biasa. Rumah sakit ini dibangun atas inisiatif dan sumbangan masyarakat Indonesia, sebagai wujud solidaritas kemanusiaan terhadap rakyat Palestina yang terus menghadapi konflik berkepanjangan.

Diresmikan pada tahun 2016, RS Indonesia berdiri di wilayah Beit Lahia, Gaza Utara—salah satu kawasan yang paling terdampak agresi militer dan memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan.

Sejak awal berdirinya, RS Indonesia memainkan peran vital dalam menyelamatkan nyawa dan memberikan pelayanan kesehatan bagi ribuan warga sipil Palestina, terutama di wilayah utara yang minim rumah sakit.

Fasilitas ini menyediakan layanan gawat darurat, operasi, perawatan intensif, radiologi, laboratorium, dan rawat inap.

Dalam kondisi normal, rumah sakit ini mampu menangani ratusan pasien per hari, termasuk korban luka akibat konflik dan warga dengan penyakit kronis yang membutuhkan perawatan rutin.

Namun kini, blokade ketat dan intensifikasi serangan militer Israel membuat RS Indonesia tidak lagi dapat berfungsi secara optimal.

Stok obat-obatan menipis, pasokan listrik dan air terbatas, dan jalur distribusi bantuan terputus. Bahkan, rumah sakit ini beberapa kali menjadi target serangan, yang mengancam keselamatan staf medis dan pasien yang dirawat.

Ribuan orang telah tewas sejak Israel melanjutkan serangannya pada 18 Maret, setelah gencatan senjata rapuh selama dua bulan runtuh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Tags

Rekomendasi

Terkini

X