KLIK SAJA - Setiap pagi di India, deretan berita tragis tentang kecelakaan lalu lintas seakan menjadi hal lumrah: bus penumpang terjun ke jurang, mobil menghantam truk yang berhenti mendadak, atau pengendara sepeda motor tergilas oleh kendaraan besar.
Potret ini bukanlah sekadar kabar harian—melainkan gambaran nyata dari krisis keselamatan jalan yang mengintai 1,4 miliar penduduk negeri tersebut.
Pada tahun 2023, lebih dari 172.000 orang tewas di jalan-jalan India, atau setara 474 kematian setiap hari—satu nyawa hilang setiap tiga menit.
Angka ini mencengangkan, menjadikan India sebagai salah satu negara dengan tingkat kematian lalu lintas tertinggi di dunia.
Lebih tragis lagi, dari jumlah tersebut, 10.000 korban adalah anak-anak, dan 35.000 lainnya adalah pejalan kaki yang terabaikan haknya di jalan raya.
Penyebab utamanya bukan sekadar kendaraan yang usang atau volume lalu lintas yang tinggi, melainkan kombinasi kompleks dari infrastruktur buruk, penegakan hukum yang lemah, dan kelalaian pengemudi.
Mengemudi dalam kecepatan tinggi, tanpa helm, tanpa sabuk pengaman, bahkan tanpa SIM, menjadi penyebab utama ribuan nyawa melayang tiap tahun.
Tingginya angka kecelakaan juga ditopang oleh kondisi jalan yang memprihatinkan.
Sejak 2019, pemerintah India mengidentifikasi 13.795 titik hitam rawan kecelakaan, namun baru sekitar 5.000 yang diperbaiki.
Rambu lalu lintas yang tidak konsisten, pembatas jalan yang dipasang secara sembarangan, serta desain jalan yang tidak memperhatikan keselamatan, memperburuk situasi.
India memiliki jaringan jalan raya terpanjang kedua di dunia—6,6 juta kilometer, dan lebih dari 350 juta kendaraan terdaftar.
Namun, campur aduk jenis lalu lintas di jalan—dari truk, bus, motor, becak, pejalan kaki, hingga hewan ternak—menyebabkan kekacauan yang nyaris tak terkendali.
Di tengah arus urbanisasi cepat dan pertumbuhan ekonomi, kebutuhan akan infrastruktur yang memadai seolah mendesak, tetapi tidak sebanding dengan upaya menjaga keselamatan.
Meski pemerintah telah berinvestasi besar-besaran, dan audit keselamatan dilakukan oleh institusi seperti IIT Delhi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembangunan jalan sering kali mengabaikan prinsip dasar rekayasa lalu lintas dan keselamatan publik.