Mengenal Gedung Singa Surabaya, Masterpiece Arsitektur Jaman Kolonial Perpaduan Eropa, Timur Tengah dan Nusantara

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Kamis, 18 Juni 2026 | 21:52 WIB
Gedung Singa (tribun)
Gedung Singa (tribun)

Keistimewaan gedung ini terletak pada keberaniannya memadukan berbagai unsur budaya dalam satu rancangan.

Saat bangunan-bangunan lain pada awal abad ke-20 masih didominasi pilar-pilar silinder bergaya Eropa dan warna monokrom yang kaku, Gedung Singa justru tampil modern dengan permainan warna dan ragam ornamen yang kaya.

Bata merah dibiarkan terekspos sebagai elemen utama fasad. Pada bagian atas bangunan, lukisan keramik karya Jan Toorop menghadirkan sentuhan artistik yang jarang ditemukan pada bangunan lain di zamannya.

Detail kayu ukir pada kusen dan daun pintu menambahkan nuansa hangat sekaligus mempertegas karakter bangunan.

Nama "Gedung Singa" sendiri berasal dari dua patung singa bersayap yang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu masuk utama.

Karya Mendes da Costa tersebut terinspirasi dari mitologi Mesir kuno. Ekspresi singa yang tampak meringis dan sendu menghadirkan kesan dramatis sekaligus misterius, menjadikannya salah satu elemen paling ikonik dari bangunan ini.

Namun, daya tarik Gedung Singa tidak hanya berasal dari pengaruh Eropa dan Timur Tengah.

Jika diperhatikan lebih saksama, bangunan ini juga menyimpan jejak kuat budaya Nusantara.

Gedung Singa pada jaman Hindia Belanda
Gedung Singa pada jaman Hindia Belanda (kompas)

Pada bagian mahkota bangunan, terutama pada kusen dormer dan lisplang, terlihat ornamen yang mengingatkan pada rumah-rumah adat Toraja.

Sementara bentuk kusen dan sejumlah detail arsitektural lainnya memperlihatkan pengaruh gaya Jawa.

Perpaduan ini menciptakan sebuah dialog unik antara budaya Barat dan kearifan lokal yang jarang ditemukan pada bangunan kolonial lainnya.

Baca Juga: Menelusuri Sejarah Benteng De Verwachting Kota Sanana, Jejak Peninggalan VOC di Maluku Utara

Tak hanya itu, komposisi fasad bangunan dari bagian kaki, badan, hingga mahkota juga diyakini merepresentasikan konsep tiga teras berundak yang dikenal dalam filosofi Hindu-Jawa.

Konsep tersebut lazim dijumpai pada tata ruang situs-situs percandian di Gunung Penanggungan, kompleks makam para wali, hingga lanskap budaya Bali yang masih bertahan hingga sekarang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X