KLIK SAJA - Bukan sekadar deretan prosesi adat, Sedekah Gunung—tradisi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia—merupakan manifestasi filosofi hidup tentang rasa syukur dan keseimbangan alam.
Berpusat di Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, Bangka Barat, ritus sakral yang dipimpin oleh Janum (Batin Gunung ke-8) ini rutin digelar setiap tanggal 14 Muharram sebagai penanda dimulainya siklus baru dalam kehidupan spiritual dan alamiah Suku Jerieng.
Denyut tradisi terasa kental saat alunan gemuruh gendang dan dentang gong mulai memecah keheningan.
Berjalan tanpa alas kaki, Janum memimpin rombongan menyusuri jalan setapak sejauh satu kilometer.
Perjalanan ini diwarnai oleh beberapa persinggahan penting:
- Pementasan Tari Tabuh: Digelar di balai desa sebagai pembuka tirai perjalanan spiritual.
- Ziarah Leluhur: Memohon restu di makam tokoh adat, Kek Adung dan Kek Weng.
- Puncak Ritual di Bukit Penyabung: Di antara rimba yang rindang dan batu granit raksasa, Janum berdiri tegap mengenakan pakaian putih dan peci resam.
Sebagai pemangku adat sekaligus "jembatan" spiritual, Janum melantunkan doa-doa penuh pengharapan dalam bahasa Jerieng.
Ia memohon kesuburan ladang serta perlindungan dari segala marabahaya. Ritual ditutup dengan menabur beras, kunyit, bunga melati, dan madu—sebuah simbol indahnya berbagi dan bersedekah kepada alam.
Kearifan Obat Tradisional dan Pantangan Adat
Kemajuan zaman tak melunturkan ingatan kolektif Suku Jerieng terhadap kekayaan hayati mereka. Saat kembali dari bukit, warga lazim membawa tumbuhan obat seperti medangsang dan daun sudu-sudu.
Fakta Unik: Penelitian mencatat Suku Jerieng memanfaatkan setidaknya 82 jenis tanaman obat untuk menyembuhkan 45 jenis penyakit, bukti mendalamnya pengetahuan sains lokal mereka.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Pamose Asal Desa Topoyo, Atraksi Debus Khas Mamuju
Selesai upacara, berlakulah pantangan adat (pemali): warga dilarang berkebun, melaut, atau menyembelih hewan selama tiga hari.
Menurut Janum, pantangan ini adalah bentuk jeda agar alam dapat beristirahat. Dahulu, ketika tradisi ini sempat terhenti, hasil panen warga terbukti merosot tajam.
Bagi Suku Jerieng, keharmonisan hidup terikat kuat pada keseimbangan antara manusia, flora, fauna, dan dimensi gaib.