Menelusuri Museum Balla Lompoa di Sungguminasa, Jejak Kebesaran Kerajaan Gowa di Masa Lampau

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Selasa, 9 Juni 2026 | 12:24 WIB
Balla Lompoa (panduan wisata)
Balla Lompoa (panduan wisata)

Balla Lompoa dibangun pada periode 1935–1936 pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-35, I Mangngi-mangngi Daeng Mattutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin.

Setelah wafatnya sang raja, istana ini diteruskan oleh Raja Gowa ke-36, Andi Idjo Daeng Mattawang, yang tercatat sebagai raja terakhir Kerajaan Gowa sekaligus Bupati Gowa pertama. Ketika Andi Idjo pindah ke Makassar, Balla Lompoa tidak lagi digunakan sebagai pusat pemerintahan kerajaan. S

ejak saat itu, bangunan ini beralih fungsi menjadi pusat pelestarian sejarah dan budaya.

Perjalanan transformasi tersebut mencapai puncaknya ketika Balla Lompoa resmi diresmikan sebagai museum pada 6 Januari 1980.

Saat ini, museum dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Gowa melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sebagai salah satu pusat pelestarian warisan budaya terpenting di Sulawesi Selatan.

Balla Lompoa bukan hanya menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga menjadi pusat pelaksanaan tradisi adat yang masih berlangsung hingga sekarang.

Setiap bulan Zulhijah atau bertepatan dengan Hari Raya Iduladha, museum ini menjadi lokasi pelaksanaan Accera Kalompoang, ritual pencucian benda-benda pusaka kerajaan yang telah berlangsung sejak masa Raja Gowa ke-14, Sultan Alauddin.

Tradisi tersebut memiliki makna simbolis yang kuat bagi masyarakat Gowa. Salah satu kepercayaan yang masih hidup hingga kini adalah keyakinan bahwa perubahan berat benda pusaka setelah dicuci dapat menjadi pertanda bagi kondisi daerah pada masa mendatang.

Bertambahnya berat pusaka diyakini sebagai pertanda baik, sedangkan berkurangnya berat dianggap sebagai isyarat yang kurang menguntungkan.

Daya tarik utama Museum Balla Lompoa terletak pada koleksinya yang autentik. Berbeda dengan banyak museum yang menampilkan replika, sebagian besar benda yang dipamerkan di sini merupakan pusaka asli yang pernah digunakan dalam kehidupan Kerajaan Gowa.

Koleksi paling terkenal adalah Salokoa, mahkota emas murni seberat 1.766 gram yang digunakan dalam prosesi penobatan raja-raja Gowa.

Mahkota ini menjadi simbol legitimasi kekuasaan sekaligus lambang kebesaran kerajaan.

Selain Salokoa, terdapat pula Ponto Janga-Jangaya, gelang emas berbentuk naga melingkar dengan dua kepala yang mulutnya terbuka. Pusaka ini juga digunakan dalam upacara penobatan raja.

Koleksi penting lainnya adalah Kotara, rantai emas sepanjang kerajaan dengan berat sekitar 270 gram yang menjadi salah satu lambang kebesaran raja Gowa.

Museum ini juga menyimpan Al-Qur'an tulisan tangan dari abad ke-16 yang masih terawat dengan baik, naskah-naskah kuno beraksara Lontara, serta berbagai benda pusaka kerajaan yang sebagian diperkirakan telah berusia lebih dari seribu tahun.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X