Mengenal Pulau Moa di Maluku: Antara Kerbau, Sabana dan Kerasnya Kehidupan

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 10 Mei 2026 | 23:21 WIB
Pulau Moa yang penuh hamparan Sabana dan kawanan ternak Kerbau (genpi)
Pulau Moa yang penuh hamparan Sabana dan kawanan ternak Kerbau (genpi)

Curah hujan di Pulau Moa tergolong rendah. Kondisi geografis yang didominasi wilayah berbatu membuat pulau ini sangat rentan mengalami kekeringan, terutama saat musim kemarau panjang datang.

Tidak semua warga mampu memiliki sumur pribadi karena biaya pengeborannya sangat mahal. Sebagian besar masyarakat mengandalkan sumur komunal atau sumber mata air yang letaknya cukup jauh dari permukiman.

Untuk mendapatkan air bersih, warga harus berjalan menempuh jarak yang tidak dekat sambil membawa beban air di tengah panas matahari dan kondisi jalan yang belum memadai.

Saat kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya, persoalan air bisa berubah menjadi bencana serius.

Kekeringan kerap menyebabkan kematian massal kerbau ternak milik warga yang dipelihara secara tradisional.

Namun menariknya, kondisi alam yang keras justru membentuk ketahanan unik pada hewan ternak khas daerah ini, yaitu Kerbau Moa.

Kerbau Moa, Plasma Nutfah Asli Indonesia

Kerbau Moa merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang berkembang di wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku.

Kerbau ini termasuk rumpun kerbau lumpur atau swamp buffalo, jenis hewan yang umumnya sangat bergantung pada keberadaan air karena memiliki kebiasaan berkubang.

Namun, Kerbau Moa memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Hewan ini mampu bertahan hidup dalam kondisi minim air dan dengan kualitas pakan yang terbatas.

Karena terbiasa menghadapi kekeringan, perilaku Kerbau Moa pun berbeda dibanding kerbau pada umumnya.

Kemampuan bertahan tersebut membuat Kerbau Moa dinilai memiliki potensi besar sebagai komoditas ternak unggulan, khususnya untuk wilayah-wilayah kering di Indonesia bagian timur.

Bergantung pada Kapal Logistik

Kondisi tanah dan iklim di Pulau Moa juga membuat aktivitas pertanian sulit berkembang. Akibatnya, masyarakat sangat bergantung pada pasokan barang dari wilayah lain di sekitarnya.

Kebutuhan pokok dan bahan bakar sebagian besar didatangkan menggunakan kapal laut. Ketika cuaca buruk menghambat kapal bersandar, harga barang-barang kebutuhan sehari-hari biasanya langsung melonjak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X