Keberagaman arca ini menunjukkan adanya perpaduan unsur Hindu dan Buddha dalam praktik keagamaan saat itu.
Salah satu hal yang paling menyita perhatian adalah kondisi arca utama yang tidak berkepala. Hingga kini, belum ada kepastian apakah bagian kepala tersebut hilang seiring waktu atau memang sejak awal tidak pernah ada. Misteri ini justru menambah daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Jika dibandingkan dengan candi-candi besar seperti Borobudur atau Penataran, Candi Boyolangu mungkin tampak sederhana.
Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan lapisan sejarah, spiritualitas, dan kisah keluarga kerajaan yang begitu kaya.
Mengunjungi tempat ini bukan sekadar melihat reruntuhan, melainkan menelusuri jejak masa lalu—tentang kekuasaan, pengabdian, dan pilihan hidup seorang perempuan yang meninggalkan takhta demi jalan spiritual.***