Ada pula Arca Ganesya Tikus yang unik karena berukuran kecil dan digambarkan duduk di atas musaka—berbeda dari arca Ganesya pada umumnya.
Tak kalah menarik, terdapat Arca Bodhisatwa yang tergolong langka, bahkan hanya ditemukan di beberapa wilayah termasuk India.
Selain itu, sejumlah prasasti penting seperti Prasasti Kanjuruhan, Prasasti Muncang, dan Prasasti Dinoyo II juga tersimpan di sini, memuat catatan sejarah tentang kehidupan sosial dan politik masa lampau, termasuk pemberian tanah oleh penguasa kerajaan.
Lantai dua membawa pengunjung pada kisah Ken Arok, tokoh penting dalam sejarah Jawa Timur dan berdirinya Kerajaan Singosari.
Di sini, narasi sejarah terasa lebih hidup melalui koleksi yang menggambarkan dinamika kekuasaan pada masa itu.
Tak hanya itu, museum ini juga menyimpan peninggalan prasejarah seperti Batu Pelor, Batu Lumpang, dan Batu Gores—bukti kehidupan manusia purba di wilayah Jawa.
Untuk memperkaya pengalaman, tersedia ruang audio visual serta berbagai kegiatan edukatif seperti lomba dan gelar wicara yang rutin diadakan.
Museum ini pun tak sekadar menjadi tempat penyimpanan, tetapi juga ruang belajar yang aktif dan interaktif.
Akses yang Mudah, Meski Tersembunyi
Meski berada di dalam kawasan perumahan, akses menuju museum ini cukup mudah. Lokasinya masih berada di pusat Kota Malang, dekat dengan Jalan Soekarno Hatta yang dikenal luas.
Dari Stasiun Malang, jaraknya sekitar 7 kilometer dengan waktu tempuh 15–20 menit. Sementara dari Terminal Arjosari, jaraknya sekitar 6 kilometer.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Para Pendiri Bangsa di Museum HOS Tjokroaminoto Surabaya
Pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi, transportasi online, maupun angkutan umum.
Setelah memasuki kawasan Griya Shanta, pengunjung cukup mengikuti petunjuk menuju Blok B No. 210. Area parkir yang tersedia pun cukup luas dan dilengkapi petugas keamanan.