KLIK SAJA – Rumah tua itu tidak terlalu besar dan berada di gang sempit kota Surabaya, namun siapa menyangka bangunan itu mampu melahirkan para founding father bangsa Indonesia.
Rumah itu adalah kediaman HOS Tjokroaminoto, sang Guru Bangsa, yang kini dirubah menjadi museum.
Di sinilah berbagai gagasan besar tentang masa depan Indonesia pernah dirumuskan. Rumah ini menjadi saksi lahirnya pemikiran tokoh-tokoh pergerakan nasional dari beragam latar belakang ideologi.
Kini, museum ini hadir sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi yang penting di Surabaya, menyajikan kisah kepemimpinan Tjokroaminoto dalam Sarekat Islam serta perjalanan hidup dan keluarganya. Secara resmi, bangunan ini diresmikan sebagai museum pada 27 November 2017.
Sebelum menjadi museum, bangunan ini adalah rumah pribadi Tjokroaminoto. Namun, fungsinya jauh melampaui sekadar tempat tinggal.
Pada masanya, rumah ini menjadi ruang pertemuan, diskusi, bahkan perdebatan sengit antar tokoh pergerakan yang tengah merancang strategi melawan penjajahan.
Kini, museum menyimpan sekitar 143 koleksi bersejarah, mulai dari perabot asli hingga buku dan foto yang merekam perjalanan hidup sang tokoh.
Salah satu sudut yang paling menyentuh adalah ruang pribadi Tjokroaminoto—tempat beliau menghabiskan waktu dalam kesendirian setelah wafatnya sang istri, Soeharsikin, pada tahun 1921.
Ruangan ini menghadirkan sisi manusiawi dari sosok besar yang selama ini dikenal tegar dan visioner.
Kekuatan utama museum ini terletak pada kemampuannya menghadirkan kembali suasana masa lalu.
Setiap ruangan menyimpan cerita—tentang pertemuan tokoh-tokoh besar, tentang pertukaran gagasan, hingga tentang perdebatan ideologi seperti nasionalisme, Islamisme, dan komunisme yang pernah berkembang di tempat ini.
Interior museum yang sederhana namun autentik—dengan perpaduan atap anyaman kayu dan dinding putih—memberikan nuansa rumah lama yang hangat dan terawat.
Pada bagian loteng, terdapat kamar kos-kosan yang dulu pernah ditinggali Bung Karno dan tokoh-tokoh bangsa lainnya seperti Musso (pemimpin PKI), Semaun (Pendiri PKI), Kartosoewirjo (pemimpin DI/TII) hingga Tan Malaka.
Maka bisa dibayangkan betapa riuhnya kamar itu yang dipenuhi perdebatan para bapak bangsa menyusun arah negeri ini.