Popularitasnya kalah dengan kuliner Surabaya lain seperti rawon, lontong balap, atau rujak cingur.
Para penjual tradisional yang umumnya ibu-ibu paruh baya membawa bakul berisi semanggi dengan selendang khas, kini mulai berkurang jumlahnya.
Jika Anda berkesempatan berkunjung ke Surabaya, jangan lewatkan kesempatan mencicipi kuliner legendaris ini.
Baca Juga: Nikmatnya Sate Buntel Khas Solo, Kebabnya Wong Jowo
Kunjungi kawasan Taman Bungkul di pagi hari, di mana masih ada beberapa penjual pecel semanggi yang bertahan demi menjaga tradisi ini tetap hidup.
Lebih dari sekadar makanan, pecel semanggi adalah wujud kearifan lokal, simbol ketekunan masyarakat, dan bukti betapa sederhana bisa berarti istimewa.
Mari lestarikan kuliner ini, agar warisan rasa Nusantara tak sekadar jadi cerita.***