Sajian Sederhana Pecel Semanggi, Kuliner Legendaris Kota Surabaya yang Hampir Punah

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Sabtu, 19 April 2025 | 22:02 WIB
Sajian Pecel Semanggi di atas daun pisang (good news from INdonesia)
Sajian Pecel Semanggi di atas daun pisang (good news from INdonesia)

KLIK SAJA - Di tengah arus deras tren makanan modern dan global, kuliner tradisional masih mampu bertahan, salah satunya adalah pecel.

Hidangan berbasis sayur rebus dengan siraman bumbu kacang ini punya tempat khusus di hati masyarakat Indonesia.

Sementara itu, bagi warga Jawa Timur, keberadaan pecel seolah menjadi bukan sekedar saus yang bisa dipadu padankan dengan bahan makanan lain.

Artinya bagi warga Jatim, mau makan pada siang hari, malam hari bahkan dini hari, yang Namanya pecel tak pernah salah waktu untuk menikmatinya.

Dari Sabang sampai Merauke, kita bisa menemukan berbagai varian pecel. Namun, ada satu jenis pecel yang khas dan sangat lekat bagi Arek Surabaya, yakni pecel semanggi.

Baca Juga: Uniknya Kuliner Gudeg Manggar Jogja, Gunakan Bunga Kelapa Sebagai Bahan Utama

Berbeda dengan pecel Madiun yang lebih populer, pecel semanggi menawarkan sensasi rasa dan tampilan yang unik.

Daun semanggi, yang menjadi bahan utama, merupakan tanaman liar yang dulunya banyak tumbuh di sekitar sawah dan sungai di daerah Benowo, Surabaya Barat.

Proses pengolahan semanggi pun tak biasa: tidak direbus, melainkan dikukus, agar teksturnya tetap lembut namun tidak hancur, dan mampu menyerap bumbu dengan sempurna.

Bumbu pecel semanggi dibuat dari perpaduan kacang tanah, ubi jalar rebus, cabai, serta gula merah yang diulek halus. Cita rasanya manis, pedas, dan gurih, dengan aroma khas yang menggoda.

Tambahan kangkung dan kecambah rebus memperkaya tekstur, sementara kerupuk uli—kerupuk berbahan ketan yang digoreng kering—menambah sensasi kriuk yang nikmat.

Uniknya lagi, penyajian pecel semanggi dilakukan di atas daun pisang, memberikan nuansa alami yang menggugah selera.

Namun, di balik kelezatannya, pecel semanggi menghadapi ancaman punah.

Meski pada 2022 telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kemendikbudristek, keberadaan penjualnya semakin sulit ditemukan layaknya mencari calon jodoh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X