Pada situs tersebut terdapat sekelompok batu besar yang disusun dalam bentuk empat persegi dengan arah ke timur dan barat.
Lalu pada bagian tengah kelompok batu besar ini terdapat bulat panjang yang di kedua ujungnya dipahatkan phallus (lambang alat kelamin laki-laki).
Merujuk pandangan ahli Universitas Lampung, dari perspektif geologi, area Taman Pugung Raharjo dibangun di atas batuan yang terbentuk dari pembekuan magma yang keluar ke permukaan bumi yang disebut sebagai lava basalt vesikuler Formasi Sukadana (Mangga, 1992).
Baca Juga: Mengagumi Kebesaran Benteng Wolio, Diklaim Bangunan Pertahanan Terluas di Dunia
Batu ini memiliki sebutan lokal yang disebut sebagai batu keriting karena tekstur batu yang kasar dan berlubang-lubang.
Batu-batu tersebut digunakan pada pundan berundak, menhir, dolmen, dan objek-objek lain yang ada di Pugung Raharjo.
Pemanfaatan batu lokal untuk keperluan budaya dan kehidupan sehari-hari tersebut disimpulkan, ada keterkaitan kuat pada aspek geologi dan budaya.
Sekalipun masih menyimpan misteri, kawasan Pugung Raharja tetap layak masuk daftar atas tujuan kunjungan wisatawan; selain bisa menambah pengetahuan tentang warisan budaya nenek moyang kita.***