KLIK SAJA – Pada dua dekade terakhir kita menyaksikan betapa banyak media cetak yang gulung tikar, sebagai imbas peralihan konsumsi berita secara konvensional ke arah digitalisasi.
Awalnya pangsa pasar jurnalistik berbasis digital dikuasai oleh media-media mainstream bermodal besar.
Namun tidak demikian dengan para pemain media cetak bermodal kecil, utamanya yang berada di berbagai daerah, seolah tak tahu bagaimana menghadapi perubahan teknologi ini.
Banyak penulis, editor hingga jurnalis lokal mencoba peruntungan untuk bisa menyalurkan artikel-artikelnya di media digital mainstream, namun hal itu tidaklah mudah, karena ketatnya persaingan agar bisa dimuat.
Di sisi lain untuk mendirikan domain web untuk portal berita, tentunya memerlukan biaya serta usaha yang keras untuk mendongkrak jumlah pembaca, karena pesaingnya bukan hanya media digital mainstream, tetapi juga konten-konten media sosial.
Melihat keadaan ini, pada tahun 2021, Agus Sulistriyono, sang pendiri sekaligus CEO Promedia Teknologi mencoba menciptakan ekosistem platform digital yang bisa merangkul dan mengembangkan mitra media yang ada di berbagai daerah.
Tak perlu waktu lama, pada waktu itu Promedia Teknologi langsung menggandeng banyak mitra media yang butuh ruang untuk berkembang.
Sejak awal Promedia selalu berkomitmen menyediakan teknologi, infrastruktur, monetisasi, dan strategi untuk pengelolaan media online profesional bagi para mitranya.
Tak tanggung-tanggung, selama 4 Tahun Promedia mengelola ekosistem platform media online ternyata telah berhasil mencetak 1.250 Media Online, dimana didalamnya terdapat sekitar 40.000 pembuat konten.
Dimana dengan jumlah fantastis tersebut, bisa dikatakan Promedia merupakan ekosistem media online independen terbesar di Indonesia.
Pencapaian ini tentunya tidaklah 'ujug-ujug' jatuh dari langit, tetapi diraih dari nilai arti sebuah kepercayaan.
Promedia berhasil memberikan kepercayaan kepada mitra media online yang tergabung di dalamnya untuk terus berkembang.
Menariknya, CEO Promedia, Agus Sulistriyono mengistilahkan media online yang menjadi mitra disebut dengan ‘Mediapreneur’.
Sementara para penulis artikel, editor, content creator yang ada di dalamnya, diistilahkan oleh Agus dengan sebutan ‘Contentpreneur’.