Mantan asisten pelatih Timnas Indonesia itu juga menyoroti upaya PSSI yang ingin agar era kepemimpinan Kluivert itu menjaring para pemain muda diaspora di berbagai level tertinggi di Eropa, termasuk dari Belanda.
"Kedua, Gerald Vanenburg dan Frank van Kempen akan berusaha merekrut pemain lokal (Belanda) ke tim U-23 dan U-20. Terakhir, menarik lebih banyak pemain kompetitif di negara dengan 280 juta penduduk dalam jangka panjang,” imbuh Pastoor.
Meski begitu, proyek itu kandas lebih cepat setelah kegagalan di babak kualifikasi.
PSSI memilih mengakhiri kontrak seluruh tim pelatih asal Belanda, mengikuti desakan publik yang menuntut pembaruan strategi dan arah pembinaan.
Baca Juga: Prediksi Bayern Munich Vs Club Brugge, Pasukan Bavaria Bersiap Luncurkan Hujan Gol di Allianz Arena
Pastoor: Sudah Mati-matian tapi Ternyata Belum Cukup
Tentang pemecatannya, Pastoor menegaskan dirinya dan tim sudah bekerja keras untuk membawa Garuda sejauh mungkin.
“Baik di lapangan maupun di staf kepelatihan, kami berusaha menjelaskan kepada para pemain apa yang diharapkan dari mereka," terang Pastoor.
"Saya rasa kami telah melakukan itu mati-matian, tapi ternyata itu tidak cukup. Terlebih untuk mengalahkan negara-negara sekaliber (Irak-Saudi) ini,” sambungnya.
Kendati demikian, Pastoor menyebut perbedaan pengalaman dan kualitas menjadi faktor besar yang membuat skuad Garuda kesulitan bersaing di level tertinggi Asia.
Meski kebersamaan dengan Kluivert hanya sembilan bulan, Pastoor tetap memandang masa depan sepak bola Indonesia dengan optimis.
“Ada begitu banyak antusiasme di sana tentang sepak bola dan pada awalnya tentang kehadiran kami juga,” sebutnya.
Pengganti Kluivert Masih Belum Terlihat
Hingga kini, publik masih menanti siapa yang akan menjadi pelatih baru Timnas Indonesia.