KLIK SAJA - Mesir akan memulai upaya mereka meraih gelar Piala Afrika (AFCON) kedelapan dengan menghadapi Zimbabwe pada laga pembuka Grup B di Stadion Adrar, Senin waktu setempat.
Tim asuhan Hossam Hassan termasuk salah satu unggulan sebelum turnamen dimulai.
Namun, The Pharaohs harus mewaspadai Zimbabwe, yang berpotensi menghadirkan kejutan berkat faktor ketidakpastian, terutama setelah pergantian pelatih, di mana Mario Marinica menggantikan Michael Nees bulan lalu.
Sejak menjuarai gelar Afrika ketujuh mereka di Luanda 15 tahun lalu, Mesir belum mampu menambah koleksi trofinya, meski bukan tanpa usaha.
The Pharaohs dua kali mencapai partai final, yakni pada 2017 dan 2021, tetapi harus mengakui keunggulan Kamerun dan Senegal.
Pada final 2017, Mesir sempat unggul lebih dulu atas Indomitable Lions, sementara pada final 2021 mereka sempat diuntungkan oleh penyelamatan penalti Mohamed Gabaski yang menggagalkan Sadio Mane di awal laga, sebelum akhirnya tetap kalah.
Kini, Hassan—yang tiga kali menjuarai Piala Afrika sebagai pemain—memimpin tim nasional paling berprestasi di benua Afrika.
Ia berambisi membawa pulang trofi yang pernah ia raih pada 1986, 1998, dan 2006, dengan gelar terakhir menjadi awal dari rekor tiga kali juara berturut-turut Mesir.
Meski tuan rumah Maroko mendapat tekanan besar, Mesir sebagai juara tujuh kali juga memasuki putaran final tahun ini dengan beban ekspektasi tinggi, terlebih karena turnamen digelar di kawasan Afrika Utara.
Tekanan tersebut mungkin paling besar dirasakan Mohamed Salah.
Kapten sekaligus ikon tim nasional Mesir itu menjalani AFCON 2025—yang kelima sepanjang kariernya dan yang ketiga sebagai kapten—dengan kesadaran bahwa turnamen ini bisa menjadi kesempatan terakhirnya untuk mengukuhkan warisan di sepak bola Afrika.
Baca Juga: Prediksi Afrika Selatan Vs Angola, Bafana Bafana Siap Awali Piala Afrika 2025 dengan Kemenangan
Pemain berusia 33 tahun itu sebelumnya menjadi bagian dari skuad yang nyaris juara pada AFCON 2017 dan 2021, yang terakhir sebagai kapten.
Ia berharap kali ini keberuntungan berpihak kepadanya, sekaligus melupakan berbagai dinamika yang ia alami bersama Liverpool.