Hingga hari ini, suaminya masih belum ditemukan, dan ketidakpastian itu membuat luka semakin sulit sembuh.
Sang ibu duduk di posko pengungsian, menatap jauh seolah berharap sosok itu berjalan kembali pulang.
“Saya tetap berharap suatu hari dia ditemukan,” katanya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Angka-angka korban mungkin terlihat seperti data biasa, tetapi di lapangan setiap angka adalah dunia kecil yang runtuh.
Banjir bandang di Muara Batu berdampak pada 230 KK dengan 756 jiwa, meninggalkan banyak cerita yang tak akan selesai dalam waktu singkat.
Duka yang meluas bukan hanya milik satu keluarga, tapi satu desa.
Namun di balik setiap kehilangan, masih ada harapan yang dijaga pelan-pelan, meski langit Aceh belum sepenuhnya cerah.***
Artikel Terkait
Saat Media Berusaha Tetap Bernafas, Apa Saja yang Dibedah di Seminar Nasional MSF 2025?
Duka Sumatera Setelah Banjir dan Longsor! BNPB Paparkan Angka Korban, Wilayah Masih Terisolasi, dan Upaya Penyelamatan
Tim Gabungan Genjot Pembersihan Lumpur, Mobilitas Warga dan Distribusi Barang di Aceh–Sumbar Mulai Lancar
Bahlil Sebut Izin Tambang Bisa Dicabut jika Terbukti Merusak Lingkungan di Sumatera
Indonesia Negara Paling Dermawan? Penanganan Bencana Sumatera Jadi Bukti Nyata di Lapangan