Setiap melihat foto itu, ia merasa Zaid masih dekat, walau hanya dalam ingatan.
Di tengah bencana yang merenggut banyak hal, foto kecil itu menjadi satu-satunya warisan cinta yang masih bisa ia peluk.
Suara Terakhir Zaid: “Umi, Tolong Ambil Tangan Saya”
Sang ibu masih mengingat suara terakhir Zaid dengan sangat jelas, seakan gema itu terus memantul di dalam dadanya.
Air naik begitu cepat, membuatnya terpisah dari suami dan putra bungsunya dalam sekejap.
Dalam kekacauan arus itu, Zaid berteriak meminta tolong, memanggil ibunya dengan suara yang ia kenal sejak pertama kali sang anak belajar bicara.
“Umi, tolong ambil tangan saya,” katanya. Itu adalah kalimat terakhir yang ia dengar sebelum bocah itu hanyut hilang dibawa banjir.
Kenangan itu menjadi beban sekaligus pengingat yang terus menempel di kepalanya.
Ia mengaku sulit tidur karena suara itu terus datang, seolah Zaid masih memanggil dari kejauhan.
Tidak ada luka yang lebih dalam dari menyaksikan anak sendiri terlepas dari genggaman.
Bertahan 9 Jam di Pohon Ceri Demi Melindungi Satu-Satunya Anak yang Tersisa
Ketika air makin tinggi dan arus makin tak terduga, satu-satunya tempat yang bisa ia tuju hanyalah tumpukan pohon ceri yang tersangkut di aliran banjir.
Di sana, ia bertahan bersama warga lain, memeluk putri kecilnya agar tak terlepas oleh arus yang ganas.
Artikel Terkait
Saat Media Berusaha Tetap Bernafas, Apa Saja yang Dibedah di Seminar Nasional MSF 2025?
Duka Sumatera Setelah Banjir dan Longsor! BNPB Paparkan Angka Korban, Wilayah Masih Terisolasi, dan Upaya Penyelamatan
Tim Gabungan Genjot Pembersihan Lumpur, Mobilitas Warga dan Distribusi Barang di Aceh–Sumbar Mulai Lancar
Bahlil Sebut Izin Tambang Bisa Dicabut jika Terbukti Merusak Lingkungan di Sumatera
Indonesia Negara Paling Dermawan? Penanganan Bencana Sumatera Jadi Bukti Nyata di Lapangan