Di laut, gelombang setinggi 1,25–2,5 meter juga berpotensi muncul di Sangihe–Talaud, Raja Ampat utara, dan Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua.
Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi di Wilayah Utara
Meski statusnya masih “bibit” dengan potensi perkembangan rendah, siklon 93W tetap menunjukkan taringnya.
Sistem ini menciptakan penumpukan awan hujan yang signifikan di wilayah Indonesia bagian utara.
Baca Juga: Aturan Usia Medsos Diperketat, PSE Kini Bisa Disanksi Jika Kebobolan Pengguna Anak di Bawah Umur
Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, hingga beberapa wilayah perbatasan diprediksi mengalami hujan yang cukup intens.
Untuk masyarakat yang tinggal di pesisir, kondisi laut turut berubah.
Gelombang 1,25–2,5 meter berpotensi terjadi di beberapa perairan yang dekat dengan pusat sirkulasi bibit siklon ini.
Aktivitas nelayan, pelayaran kecil, hingga wisatawan laut diminta waspada.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa meskipun bibit siklon tidak langsung masuk ke wilayah Indonesia, efeknya tetap bisa “mewarnai” cuaca dan keselamatan aktivitas harian.
Bibit Siklon 91S di Barat Daya Lampung
Selain 93W, BMKG juga memantau Bibit Siklon Tropis 91S yang terbentuk pada 7 Desember 2025.
Sistem atmosfer ini berada di Samudra Hindia barat daya Lampung dengan karakteristik angin maksimum 15 knot (28 km/jam) dan tekanan minimum 1010 hPa.
BMKG menyebut, “Potensi Bibit Siklon Tropis 91S untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24–72 jam ke depan dalam kategori rendah.”
Artikel Terkait
Firman Soebagyo hingga Puan, Bantuan Bencana Jangan Jadi Ajang Pencitraan
Kayu Gelondongan Melintas Setelah Bencana? Titiek Soeharto: ‘Saya Sedih, Miris, dan Marah’
Ketika Jaringan Umum Tumbang Satelit BRI Justru Menyala, Begini Cara Layanan Tetap Terjaga di Tengah Bencana
Ironi! Presiden Prabowo Banggakan Kelapa Sawit di Tengah Situasi Darurat Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Sumatra
Saat Media Berusaha Tetap Bernafas, Apa Saja yang Dibedah di Seminar Nasional MSF 2025?