“Karena tidak menutup kemungkinan game-game online ini ada beberapa yang di situ ada yang kurang baik,” katanya.
Ia juga mencontohkan permainan seperti PUBG yang menurutnya berpotensi membentuk kebiasaan kekerasan secara psikologis.
“Kan di situ juga mungkin kita berpikirnya ada pembatasan-pembatasan,” tambahnya.
Isu ini memunculkan diskusi panjang tentang sejauh mana game dapat memengaruhi perilaku remaja.
Di tengah maraknya konten digital, pemerintah tampak ingin mengatur ulang lanskap ini agar tidak menjadi faktor risiko baru bagi anak-anak.
DPR RI Kembali Ingatkan Sekolah dan Orang Tua soal Gadget Anak
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, ikut menyoroti persoalan penggunaan gawai oleh anak setelah insiden SMAN 72 Jakarta.
Ia mengimbau sekolah lebih berhati-hati dan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas siswa.
“Kita imbau kepada sekolah-sekolah untuk menerapkan asas kehati-hatian,” ujarnya.
Anak-anak kini hidup dalam ekosistem digital yang sangat terbuka sehingga pengawasan bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan.
Baca Juga: 5 Sinyal Bahaya dari WALHI! Banjir–Longsor Sumatera dan Kewajiban Negara Menggugat Pengusaha
“Jangan sembarangan melihat-lihat gadget,” tuturnya.
Dasco ingin menekankan bahwa apa yang dilihat anak di media sosial bisa memicu risiko yang tak diduga.
Seruan ini menjadi pengingat bahwa edukasi literasi digital bukan hanya tanggung jawab keluarga, tapi juga lingkungan sekolah.***
Artikel Terkait
Ironi! Presiden Prabowo Banggakan Kelapa Sawit di Tengah Situasi Darurat Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Sumatra
Saat Media Berusaha Tetap Bernafas, Apa Saja yang Dibedah di Seminar Nasional MSF 2025?
Duka Sumatera Setelah Banjir dan Longsor! BNPB Paparkan Angka Korban, Wilayah Masih Terisolasi, dan Upaya Penyelamatan
Tim Gabungan Genjot Pembersihan Lumpur, Mobilitas Warga dan Distribusi Barang di Aceh–Sumbar Mulai Lancar
Bahlil Sebut Izin Tambang Bisa Dicabut jika Terbukti Merusak Lingkungan di Sumatera