Biaya Pemilu yang Membengkak hingga Debat Legitimasi, 7 Sorotan Panas dari Wacana Pilkada via DPRD

photo author
- Senin, 8 Desember 2025 | 08:04 WIB
Biaya Pemilu yang Membengkak hingga Debat Legitimasi, 7 Sorotan Panas dari Wacana Pilkada via DPRD (Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto tanggapi usulan kepala daerah dipilih DPRD. (PDI Perjuangan Bali))
Biaya Pemilu yang Membengkak hingga Debat Legitimasi, 7 Sorotan Panas dari Wacana Pilkada via DPRD (Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto tanggapi usulan kepala daerah dipilih DPRD. (PDI Perjuangan Bali))

Hal ini menunjukkan bahwa isu tersebut dianggap sangat strategis hingga perlu dibahas dalam forum besar partai.

Penundaan ini juga memberi ruang bagi PDIP untuk mengkaji data, merespons dinamika publik, dan melihat bagaimana wacana berkembang di tingkat nasional.

Dengan pendekatan hati-hati ini, PDIP tidak ingin terjebak dalam keputusan tergesa-gesa.

Sikap menunggu tersebut bisa menjadi langkah taktis untuk melihat peta politik lebih jelas.

Baca Juga: 5 Sinyal Bahaya dari WALHI! Banjir–Longsor Sumatera dan Kewajiban Negara Menggugat Pengusaha

Di saat yang sama, publik menaruh harapan besar pada keputusan PDIP karena bobot politiknya yang signifikan.

4. Pemilu Langsung Diakui Memakan Biaya Tinggi

Dalam pernyataannya, Hasto tidak menutup mata bahwa pemilu langsung menimbulkan biaya yang sangat besar.

Ia mengutip pernyataan Presiden Prabowo yang menyoroti beban biaya pemilu langsung yang semakin berat.

Ia berkata, “kita juga tidak menutup mata apa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo itu akibat pemilihan secara langsung menimbulkan beban biaya yang begitu besar.”

Menurut Hasto, biaya kampanye, biaya komunikasi politik, hingga biaya penggalangan dukungan sering menjadi pintu masuk masalah.

“Ada biaya kampanye, biaya penggalangan, biaya komunikasi politik, yang menyebabkan banyak kepala daerah terjebak kepada persoalan-persoalan terkait dengan korupsi, tambahnya.

Baca Juga: Bencana Belum Usai, Bupati Justru Umrah, 6 Fakta yang Bikin Netizen Mengelus Dada

Pernyataan ini menyoroti sisi gelap demokrasi langsung yang tak jarang berakhir pada penyalahgunaan kekuasaan.

Efisiensi akhirnya menjadi alasan yang sulit diabaikan di tengah kondisi politik saat ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dita Nilan Karlasari

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X