BNPB Catat 7 Bencana Baru Akibat Cuaca Ekstrem, Peristiwa di Temanggung Sebabkan Belasan Rumah Warga Rusak

photo author
- Selasa, 30 September 2025 | 14:00 WIB
BNPB Catat 7 Bencana Baru Akibat Cuaca Ekstrem, Peristiwa di Temanggung Sebabkan Belasan Rumah Warga Rusak (Tim BPBD Kabupaten Malang bersama PMI dan warga menangani pohon yang roboh menimpa rumah dan menghalangi jalan usai dihantam hujan deras disertai angin kencang di Desa Urek-Urek, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (29/9). BPBD Kabupaten Malang)
BNPB Catat 7 Bencana Baru Akibat Cuaca Ekstrem, Peristiwa di Temanggung Sebabkan Belasan Rumah Warga Rusak (Tim BPBD Kabupaten Malang bersama PMI dan warga menangani pohon yang roboh menimpa rumah dan menghalangi jalan usai dihantam hujan deras disertai angin kencang di Desa Urek-Urek, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (29/9). BPBD Kabupaten Malang)

Sementara itu, gempa bumi yang mengguncang Jawa Timur dan Bali pada 26 September 2025 berdampak pada 110 KK atau 550 jiwa.

BPBD bersama BNPB terus melakukan pemulihan, termasuk pendirian tenda keluarga dan kegiatan trauma healing bagi warga terdampak.

Upaya BNPB

BNPB melalui Kedeputian Bidang Penanganan Darurat terus mendampingi daerah berstatus darurat, termasuk di provinsi-provinsi yang terdampak karhutla, kekeringan, gempa bumi, dan erupsi gunung api.

Baca Juga: Informasi Jadwal Kapal PT Dharma Lautan Utama Rute Surabaya – Balikpapan Periode 2-10 Oktober 2025, Catat Waktu dan Linkya!

Pemerintah daerah dan BPBD juga bergerak cepat dalam pembersihan material bencana, pemadaman karhutla, distribusi air bersih, hingga evakuasi warga.

BNPB mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti informasi resmi dari instansi terkait dan pemerintah daerah sebagai acuan tindakan kesiapsiagaan.

Waspada Potensi Bencana dari Peralihan Musim dan Dinamika Atmosfer

Sebagaimana yang telah disebutkan dari hasil rangkuman kejadian bencana terbaru dalam beberapa hari terakhir, beberapa wilayah Indonesia khususnya Pulau Jawa bagian tengah dan timur hingga Bengkulu mengalami fenomena cuaca ekstrem yang menjadi salah satu tanda masuknya fase peralihan musim kemarau ke musim hujan (pancaroba).

Masa peralihan ini ditandai dengan hujan intensitas tinggi yang datang tiba-tiba, disertai petir, angin kencang, dan potensi puting beliung.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, serta kerusakan infrastruktur akibat angin kencang.

Menurut prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memasuki pekan terakhir bulan September hingga awal Oktober, wilayah selatan Indonesia berada pada masa peralihan atau periode transisi dari musim kemarau ke musim hujan.

Baca Juga: Jaga Kepercayaan Publik BGN Nonaktifkan Puluhan Dapur MBG, Ketua Banggar DPR Usul Dapur Dipusatkan di Sekolah

Selama periode ini, hujan disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat pada skala lokal umumnya terjadi saat siang menjelang sore hingga malam hari, didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari.

Selain itu, faktor dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal turut memberikan kontribusi terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia hingga sepekan ke depan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dita Nilan Karlasari

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X