Baru pekan lalu, Departemen Keuangan AS menghapus nama al-Sharaa dari daftar “teroris global yang secara khusus ditunjuk”.
Namun sejak menjabat sebagai presiden sementara Suriah, al-Sharaa berupaya memperlunak citranya di mata publik sembari membangun kembali negaranya dengan dukungan dari luar negeri, setelah 13 tahun dilanda perang.
“Dia memang punya masa lalu yang berat,” kata Trump pada Senin.
“Dan sejujurnya, saya pikir kalau seseorang tidak punya masa lalu yang keras, mungkin dia juga takkan punya kesempatan seperti ini.”
Dalam wawancara terpisah, al-Sharaa mengatakan bahwa dirinya dan Trump tidak membicarakan masa lalunya, melainkan berfokus pada “masa kini dan masa depan Suriah”, di mana negaranya diharapkan bisa menjadi mitra geopolitik dan ekonomi Amerika Serikat.
Meski demikian, kepemimpinan al-Sharaa masih diwarnai pelanggaran hak asasi manusia, termasuk pembunuhan terhadap anggota minoritas Alawi Suriah serta kekerasan mematikan antara kelompok pejuang Badui Sunni dan milisi Druze.
Ia berjanji akan menindak anggota pasukan keamanan yang terbukti melakukan pelanggaran HAM.
Trump, di sisi lain, berulang kali menyatakan kekagumannya terhadap al-Sharaa, bahkan menyebutnya sebagai sosok “muda, menarik, dan petarung sejati.”
Pada Juni lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mencabut sanksi terhadap Suriah, yang menurut Gedung Putih bertujuan mendukung jalur menuju stabilitas dan perdamaian di negara tersebut.
Pemerintah AS saat itu juga menegaskan bahwa mereka akan memantau langkah-langkah pemerintahan baru Suriah, termasuk upaya menormalisasi hubungan dengan Israel serta penanganan terhadap kelompok teroris dan militan asing yang masih beroperasi di wilayah Suriah.***