internasional

Penggulingan Kekuasan Nepal Oleh Gen Z Ternyata Terinspirasi Aksi Demonstrasi di Indonesia

Jumat, 12 September 2025 | 23:04 WIB
Ilustrasi AI Demo di Nepal dan Indonesia (berbagai sumber)

Inspirasi dari Indonesia

Menariknya, demonstrasi di Nepal mendapat inspirasi dari aksi serupa di Indonesia yang juga didominasi Generasi Z. Para aktivis muda Nepal bahkan menggunakan simbol bajak laut dari anime One Piece sebagaimana dilakukan di Indonesia.

“Kami terinspirasi dari mereka [anak muda Indonesia]. Kami wajib memberikan kredit kepada Indonesia, terutama para anak mudanya, sehingga kami berani melakukan aksi seperti hari ini,” ujar Nepali Rohan Rai (19) kepada Straits Times.

Namun, jika di Indonesia aksi relatif mudah diredam, protes di Nepal justru menjungkalkan pemerintahan yang dianggap korup.

Meski demikian, kerusakan infrastruktur dan korban jiwa memaksa sejumlah negara, termasuk Indonesia, menginstruksikan warganya untuk segera mengevakuasi diri. KBRI Dhaka mencatat 134 WNI masih berada di Nepal.

Jejak Panjang Perlawanan Rakyat Nepal

Ledakan politik ini bukanlah fenomena baru. Nepal memiliki sejarah panjang perlawanan rakyat terhadap monarki maupun pemerintahan otoriter.

Nepal sempat berada di bawah monarki absolut hingga 1951, lalu jatuh ke sistem parlementer, sebelum Raja Mahendra kembali memberlakukan monarki absolut dengan sistem Panchayat pada 1961.

Sistem ini bertahan hingga 1990 sebelum digulingkan melalui demonstrasi revolusioner yang memulihkan demokrasi multipartai.

Pada 2006, setelah perjuangan panjang yang menelan 17 ribu korban, rakyat Nepal akhirnya berhasil mendirikan republik dan menggulingkan monarki Raja Gyanendra.

Dengan latar sejarah itu, demonstrasi bukanlah hal asing bagi rakyat Nepal—mereka melihatnya sebagai jalan meraih demokrasi.

Akar Krisis dan Kemarahan Publik

Sharma Oli yang menjabat tiga periode sejak 2015 memang sempat mencatat keberhasilan, seperti menjaga pertumbuhan ekonomi 4–4,5% pascapandemi COVID-19.

Namun, masalah besar tetap menganga: kesenjangan sosial-ekonomi yang ekstrem, serta gaya hidup hedonis para elite yang memicu kebencian rakyat.

Menurut laporan CNN, para demonstran menegaskan bahwa larangan media sosial hanyalah pemicu, sementara akar masalah sebenarnya adalah korupsi sistemik dan tata kelola pemerintahan yang buruk.

Halaman:

Tags

Terkini