“Kami turun ke jalan bukan hanya karena larangan media sosial. Ini adalah puncak dari kekecewaan generasi kami terhadap korupsi dan pemerintahan yang gagal,” kata salah satu demonstran kepada CNN.
Lembaga antikorupsi Nepal, Commission for the Investigation of Abuse of Authority (CIAA)—setara dengan KPK di Indonesia—dinilai mandul dan tak berdaya menindak para pejabat korup.
Ketidakmampuan inilah yang membuat amarah rakyat mencapai titik didih, hingga akhirnya meledak menjadi revolusi jalanan.***