Demonstran tetap turun ke jalan pada Selasa, 9 September 2025, unjuk rasa diwarnai aksi membakar ban hingga menyerang kantor partai politik di Lalitpur.
Bandara internasional Kathmandu bahkan sempat menutup semua penerbangan.
Sejumlah menteri ikut mundur, termasuk Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak dan Menteri Pertanian Ramnath Adhikari.
Tekanan publik kian besar, dengan tuntutan reformasi total di tubuh pemerintahan.
Baca Juga: Israel Lakukan Serangan Udara di Qatar, Tewaskan Sejumlah Anggota Hamas
Dalam laporan yang sama, pengamat politik di Nepal, Yog Raj Lamichhane bahkan menilai akar masalah ini adalah ketimpangan yang sudah lama terjadi hingga memicu gelombang tuntutan reformasi besar-besaran di Nepal.
“Anak pejabat hidup dari keuntungan politik orang tuanya. Ini menimbulkan frustasi luar biasa di kalangan rakyat biasa,” jelas Yog Raj.
Hal serupa disampaikan Dipesh Karki, dosen Kathmandu University.
Baca Juga: Kontroversi dan Halu! Donald Trump Ganti Nama Departemen Pertahanan Jadi Departemen Perang
Menurutnya, sejak masa kerajaan hingga kini, kekuasaan di Nepal cenderung dikuasai oleh segelintir elite.
“Fenomena nepo kids hanyalah wajah baru dari praktik lama, yaitu penangkapan sumber daya oleh kelompok elit,” tegas Karki.
Pada akhirnya, fenomena "nepo kids” kini dianggap sebagai simbol nyata ihwal ketidakadilan sosial di Nepal.***