internasional

Kontroversi Prada ‘Mencuri’ Ide Desain Sendal Tradisional Khas India

Sabtu, 19 Juli 2025 | 09:57 WIB
Sandal Kolhapur India (ABC)

KLIK SAJA - Sebuah kontroversi terbaru yang melibatkan label mewah asal Italia, Prada, telah menyoroti bagaimana raksasa mode global berinteraksi dengan India.

Brand mewah dunia ini sedang berseteru dengan India, karena dianggap ‘mencuri’ ide desain pada produk sendal tradisional khas India.

Prada menuai kecaman pada bulan Juni setelah para modelnya tampil di peragaan busana di Milan mengenakan sandal dengan anyaman jari kaki yang menyerupai Kolhapuri chappal—sandal kulit buatan tangan khas India.

Sandal ini dinamai dari Kolhapur, sebuah kota di negara bagian Maharashtra, India bagian barat, yang telah memproduksi sandal ini selama berabad-abad. Namun, koleksi Prada tersebut tidak menyebutkan asal-usul sandal itu, memicu reaksi keras dari publik.

Seiring membesarnya kontroversi, Prada mengeluarkan pernyataan bahwa mereka mengakui asal-usul desain sandal tersebut dan terbuka terhadap "dialog untuk pertukaran yang bermakna dengan para pengrajin lokal India".

Dalam beberapa hari terakhir, tim dari Prada telah menemui para pengrajin dan pemilik toko di Kolhapur yang membuat dan menjual sandal tersebut, guna memahami proses produksinya.

Pernyataan tersebut juga mengindikasikan bahwa Prada berpotensi menjalin kolaborasi di masa depan dengan beberapa produsen sandal Kolhapuri.

Meski belum jelas seperti apa bentuk kerja sama ini nantinya, hal ini menjadi contoh langka dari sebuah merek fashion global yang mengakui bahwa mereka telah gagal memberikan penghargaan kepada para pengrajin lokal dan kerajinan yang menjadi inspirasi desain mereka.

Banyak brand besar selama ini rutin dituduh mengambil inspirasi dari tradisi India—dan Asia Selatan secara umum—demi menyegarkan tampilan dan tetap relevan, tanpa memberikan kredit yang layak dari sumber idenya.

Awal tahun ini, koleksi musim semi dari Reformation dan H&M memicu perdebatan sengit tentang apropriasi budaya, setelah banyak pihak mengatakan bahwa desain mereka sangat dipengaruhi oleh busana tradisional Asia Selatan.

Kedua merek tersebut merespons—H&M membantah tuduhan tersebut, sementara Reformation menyatakan bahwa desainnya terinspirasi oleh pakaian milik model yang mereka ajak kerja sama dalam koleksi itu.

Dua minggu yang lalu, Dior juga dikritik setelah koleksi yang sangat dinanti di Paris menampilkan mantel houndstooth berwarna emas dan gading, yang disebut-sebut menggunakan teknik mukaish—seni sulam logam kuno dari India utara.

Namun, koleksi tersebut sama sekali tidak menyebutkan asal teknik tersebut ataupun India.

Beberapa ahli berpendapat bahwa tidak semua brand yang mengambil inspirasi dari suatu budaya melakukannya dengan niat buruk—para desainer di seluruh dunia memang kerap menggunakan estetika dari berbagai tradisi dan menampilkannya di panggung global.

Halaman:

Tags

Terkini