Di tengah persaingan ketat industri fashion, ada pula yang mengatakan bahwa merek-merek besar tidak selalu punya waktu cukup untuk mempertimbangkan implikasi budaya dari pilihan desain mereka.
Namun para pengkritik menegaskan bahwa setiap pengambilan inspirasi harus didasari oleh rasa hormat dan pengakuan, terutama ketika ide-ide tersebut dipakai ulang oleh brand-brand global yang kemudian menjualnya dengan harga selangit.
Perkiraan mengenai besarnya pasar barang mewah di India memang bervariasi, tetapi kawasan ini secara luas dipandang sebagai peluang pertumbuhan besar bagi brand internasional.
Pertanyaan soal apropri budaya memang kompleks, dan perdebatan yang timbul di media sosial bisa terasa berlebihan sekaligus membuka mata.
Dan meskipun tidak ada jawaban mudah, banyak yang meyakini bahwa kemarahan publik terhadap Prada telah menjadi titik awal penting untuk menuntut akuntabilitas yang lebih besar dari para brand dan desainer yang selama ini relatif tidak tersentuh kritik.
Ini juga merupakan kesempatan bagi India untuk merenungkan cara-cara mendukung dan mengangkat warisan budayanya sendiri.
Para perajin tenun lokal India bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu karya agung, namun mereka kerap bekerja dalam kondisi rentan, dengan bayaran yang tidak layak dan tanpa perlindungan hukum kekayaan intelektual internasional atas karya mereka.
Sungguh tak adil jika brand mewah dengan seenaknya mengambil ide intelektual para pengrajin lokal India.***