Trauma historis ini, meski tidak sepenuhnya menjadi alasan utama, memperkuat ketegangan identitas yang telah mengakar sejak ribuan tahun silam.
- Ancaman Nuklir dan Ketakutan Strategis
Israel sangat mencemaskan kemungkinan Iran menjadi negara bersenjata nuklir.
Meski laporan internasional, termasuk dari IAEA, belum pernah membuktikan Iran benar-benar membangun senjata nuklir, Israel tetap memandang program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial.
Ironisnya, Israel sendiri tidak pernah secara resmi mengakui kepemilikan senjata nuklir, meskipun berbagai sumber menyebut negara tersebut memiliki lebih dari 80 hulu ledak nuklir.
Ketimpangan ini membuat Israel terus-menerus berupaya mencegah Iran mencapai kemampuan nuklir sebagai upaya menjaga hegemoni militernya di kawasan.
Bisa disimpulkan permusuhan antara Israel dan Iran bukan hanya soal konflik militer, tetapi juga pertarungan ideologi, narasi sejarah, dan dominasi strategis di Timur Tengah.
Israel melihat Iran bukan hanya sebagai musuh regional, tetapi sebagai ancaman langsung terhadap keberadaan negara mereka.
Sementara itu, Iran menganggap perlawanan terhadap Zionisme sebagai bagian dari misinya mendukung perjuangan rakyat Palestina dan menolak hegemoni asing.
Selama akar-akar kebencian ini tidak diselesaikan secara diplomatik dan adil, konflik keduanya hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali meletus lebih luas.***