Musk secara terbuka menentang RUU itu karena dinilai akan menambah utang nasional sebesar $2,5–$3,1 triliun. Dengan utang AS yang sudah menembus $35 triliun (121% dari PDB), Musk memperingatkan potensi kebangkrutan negara.
Dalam serangkaian cuitan pedasnya, Musk bahkan meminta Kongres dan Senat menolak OBBBA. Ini bukan hanya penolakan kebijakan, tapi juga sinyal jelas: bulan madu politik antara Musk dan Trump telah usai.
Ironi dari hubungan ini adalah, dua tokoh kuat yang semula terlihat tak terkalahkan bersama, kini terseret ke dalam kubangan konflik kepentingan antara idealisme bisnis dan ambisi kekuasaan.
Bagi Trump, kehilangan Musk bukan sekadar kehilangan pendonor, tapi kehilangan legitimasi moral dan intelektual dari komunitas teknologi dan bisnis.
Sementara Musk, meski terkesan berusaha menjauh secara elegan, tetap harus menanggung kerusakan reputasi akibat keterlibatannya dalam pemerintahan Trump.
Akankah ini akhir dari kisah duet politik paling kontroversial di era modern?
Ataukah keduanya akan berdamai demi kepentingan masing-masing? Satu hal pasti—Amerika Serikat dan dunia sedang menyaksikan sebuah drama besar di panggung kekuasaan dan kapitalisme.***