Dua dari roket tersebut berhasil dicegat oleh angkatan udara Israel, sementara satu lainnya jatuh di area terbuka.
Kelompok Jihad Islam Palestina, yang merupakan sekutu Hamas, mengklaim meluncurkan roket-roket tersebut sebagai balasan atas apa yang mereka sebut sebagai “pembantaian Zionis.”
Israel menghentikan seluruh pengiriman bantuan dan pasokan lainnya ke Gaza pada 2 Maret, dan melanjutkan serangannya terhadap Hamas pada 18 Maret setelah gencatan senjata dua bulan runtuh.
PBB menyatakan bahwa 20% dari populasi Gaza yang berjumlah 2,1 juta jiwa kembali mengungsi, dan 70% wilayah Gaza kini berada dalam “zona larangan” militer Israel atau berada di bawah perintah evakuasi.
Kekurangan parah makanan dan bahan bakar telah memaksa seluruh pabrik roti yang didukung PBB serta lebih dari 60% dari 180 dapur umum yang menyediakan makanan hangat untuk menghentikan operasional.
Sebuah penilaian yang didukung PBB dan dirilis pada Senin memperingatkan bahwa seluruh populasi Gaza menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi, dengan setengah juta orang berada di ambang kelaparan.
PBB menegaskan bahwa Israel berkewajiban menurut hukum internasional untuk memastikan ketersediaan makanan dan pasokan medis bagi penduduk Gaza.
Israel mengatakan bahwa mereka mematuhi hukum internasional dan tidak ada kekurangan bantuan karena ribuan truk bantuan telah masuk selama masa gencatan senjata.
Dilaporkan pada Selasa (13/5), serangan udara besar-besaran Israel terhadap kompleks Rumah Sakit Eropa di Khan Younis menewaskan sedikitnya 28 orang, menurut pejabat lokal.
Militer Israel menggambarkan serangan tersebut sebagai “serangan tepat sasaran terhadap teroris Hamas yang beroperasi di pusat komando dan kontrol” yang berada di bawah rumah sakit.
Laporan media Israel menyebut bahwa target serangan tersebut adalah Mohammed Sinwar, yang diyakini menjadi pemimpin tertinggi Hamas di Gaza setelah saudaranya, Yahya Sinwar, tewas dibunuh pasukan Israel pada Oktober lalu.
Israel melancarkan kampanye militer untuk menghancurkan Hamas sebagai tanggapan atas serangan lintas batas yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya.
Setidaknya 52.928 orang telah tewas di Gaza sejak saat itu, termasuk 2.799 orang sejak serangan Israel kembali dilanjutkan, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas di wilayah tersebut.***