Hingga Januari 2024, SIPRI memperkirakan ada 12.121 hulu ledak nuklir di seluruh dunia, dengan 9.585 di antaranya berada dalam stok militer, dan 3.904 siap digunakan secara aktif—naik 60 unit dari tahun sebelumnya. AS dan Rusia bersama-sama memiliki lebih dari 8.000 senjata nuklir.
Sebagian besar kekuatan nuklir India dan Pakistan ditempatkan pada rudal darat, meskipun keduanya tengah mengembangkan nuclear triad—kemampuan peluncuran dari darat, laut, dan udara.
Christopher Clary, pakar keamanan dari University at Albany, AS, menyebut bahwa India kemungkinan memiliki kekuatan udara lebih unggul dibanding Pakistan, dan juga angkatan laut nuklir yang lebih maju.
Salah satu alasannya, kata Clary, adalah karena Pakistan tidak menginvestasikan waktu dan dana sebanyak India dalam membangun kapal selam bertenaga nuklir.
Sejak uji coba nuklir tahun 1998, Pakistan belum pernah secara resmi mengumumkan doktrin nuklirnya.
Sebaliknya, India mengadopsi kebijakan no-first-use setelah tes 1998, meski kebijakan ini mulai melunak.
Pada 2003, India menyatakan bisa menggunakan senjata nuklir sebagai balasan terhadap serangan kimia atau biologis.
Tahun 2016, mantan Menteri Pertahanan Manohar Parrikar menyatakan India tidak harus “terikat” oleh kebijakan itu, walau kemudian diklarifikasi sebagai pendapat pribadi.
Meski tanpa doktrin resmi, posisi operasional nuklir Pakistan dapat dilacak melalui pernyataan, wawancara, dan perkembangan arsenal.
Tahun 2001, Khalid Kidwai—kepala Divisi Rencana Strategis NCA saat itu—menguraikan empat batasan: kehilangan wilayah besar, kehancuran aset militer utama, penghambatan ekonomi, atau destabilisasi politik.
Presiden Pakistan saat itu, Pervez Musharraf, menyatakan bahwa senjata nuklir ditujukan hanya ke India, dan hanya akan digunakan jika eksistensi Pakistan sebagai negara terancam.
Mantan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, dalam memoarnya menyebut dirinya pernah dibangunkan di malam hari untuk berbicara dengan pejabat India yang khawatir Pakistan akan menggunakan senjata nuklir dalam krisis 2019.
Sementara itu, media Pakistan mengutip seorang pejabat senior yang memperingatkan India: “Saya harap kalian tahu apa itu NCA dan apa konsekuensinya. Saya bilang kami akan memberikan kejutan. Tunggu saja… Kalian memilih jalan perang tanpa tahu akibatnya bagi perdamaian kawasan.”
Pada Perang Kargil 1999, pejabat Pakistan mengatakan mereka tak akan ragu menggunakan “senjata apapun” untuk membela wilayahnya. Intelijen AS juga menduga Pakistan menyiapkan arsenal nuklir untuk kemungkinan digunakan.
Namun, baik di India maupun Pakistan ada keraguan terhadap klaim ancaman tersebut. Mantan Komisaris Tinggi India untuk Pakistan, Ajay Bisaria, menyebut Pompeo melebih-lebihkan peran AS dan ancaman nuklir dalam krisis 2019.