KLIK SAJA - Sebuah granat yang diyakini berusia lebih dari 25 tahun menewaskan dua balita ketika meledak di dekat rumah mereka di pedesaan Kamboja, ungkap pejabat setempat.
Kecelakaan itu terjadi pada hari Sabtu (22/2) di distrik Svay Leu, provinsi Siem Reap, tempat pertempuran sengit terjadi pada tahun 1980-an dan 1990-an antara tentara pemerintah Kamboja dan gerilyawan pemberontak dari Khmer Merah yang komunis.
Kelompok itu telah digulingkan dari kekuasaan pada tahun 1979.
Baca Juga: Kondisi Paus Fransiskus Semakin Kritis, Diduga Alami Pneumonia Asma Akut
Kedua balita tersebut yaitu Muo Lisa dan sepupunya, Thum Yen, saat kejadian sedang bermain di pekarangan rumah-rumah tetangga di desa terpencil Kranhuong.
Orang tua mereka sedang bekerja di ladang ketika kedua balita itu tampaknya menemukan persenjataan yang belum meledak.
Amunisi lama yang belum meledak sangat berbahaya karena kandungan bahan peledaknya menjadi mudah menguap saat rusak.
“Orang tua mereka pergi untuk menetap di tanah yang dulunya merupakan medan perang, dan mereka tidak menyadari bahwa ada ranjau darat atau persenjataan yang belum meledak yang terkubur di dekat rumah mereka,” kata Heng Ratana, direktur jenderal Pusat Aksi Ranjau Kamboja, yang memastikan bahwa itu adalah granat berpeluncur roket setelah menganalisis pecahannya.
“Sangat disayangkan karena mereka masih terlalu muda dan mereka seharusnya tidak meninggal seperti ini.” Ungkapnya.
Diperkirakan 4-6 juta ranjau darat dan amunisi lain yang belum meledak berserakan di pedesaan Kamboja selama beberapa dekade konflik yang dimulai pada tahun 1970 dan berakhir pada tahun 1998.
Baca Juga: Menkes Luncurkan RAN Kanker Anak 2025-2029, Upaya Tingkatkan Kesembuhan Pasien Di Bawah Umur
Sejak berakhirnya pertempuran di Kamboja, hampir 20.000 orang tewas dan sekitar 45.000 orang terluka akibat sisa bahan peledak perang.
Jumlah korban terus menurun dari waktu ke waktu; tahun lalu tercatat ada 49 kematian.
“Perang telah berakhir dan perdamaian telah terwujud selama lebih dari 25 tahun, tetapi darah rakyat Khmer (Kamboja) terus mengalir karena sisa-sisa ranjau darat dan amunisi,” ungkap Ratana di halaman Facebook-nya.