Setelah terbunuhnya pemimpin Hamas Yahya Sinwar, Hamas mengadakan tenda berkabung selama dua jam di Doha di sebuah aula kecil, sangat kontras dengan tiga hari berkabung baru-baru ini yang diadakan untuk pemimpin Hamas Ismail Haniyeh, yang dilakukan dengan pengawasan dan keamanan resmi negara.
Putaran perundingan terakhir pada pertengahan Oktober gagal menghasilkan kesepakatan, karena Hamas menolak usulan gencatan senjata jangka pendek.
Baca Juga: Puluhan Ribu Warga Gaza Mengalami Amputasi Cacat Tubuh Akibat Agresi Israel
Israel juga dituduh menolak kesepakatan, dimana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak kesepakatan damai yang bertentangan dengan saran dari menteri pertahanannya.
Seruan agar Hamas diusir dari Qatar tampaknya merupakan upaya pemerintahan Biden yang akan berakhir untuk memaksakan semacam kesepakatan damai sebelum akhir masa jabatannya pada bulan Januari.
Jika Hamas dipaksa meninggalkan Doha, tidak jelas di mana mereka akan menempatkan kantor politik mereka.
Sekutu utama Iran akan menjadi pilihan, meskipun pembunuhan mantan pemimpin Ismail Haniyeh di Teheran pada bulan Juli menunjukkan bahwa mereka mungkin menghadapi risiko dari Israel jika ditempatkan di sana.
Namun, memilih Iran juga bukan keputusan bijak, karena negara tersebut tak memiliki koneksi ke negara barat, seperti Qatar, terlebih lagi negara ini berhaluan Syiah.
Pilihan yang lebih memungkinkan adalah Turki, sebagai anggota NATO tetapi juga negara mayoritas Sunni, Turki akan memberi kelompok itu basis untuk beroperasi dengan relatif aman.
Pada April lalu Presiden Erdogan menjamu kepala politik Hamas saat itu, Ismail Haniyeh, dan delegasinya di Istanbul, di mana mereka membahas tentang "apa yang perlu dilakukan untuk memastikan pengiriman bantuan kemanusiaan yang memadai dan tanpa gangguan ke Gaza, dan proses perdamaian yang adil dan langgeng di wilayah tersebut".
Baca Juga: Israel Larang UNRWA Beroperasi di Gaza, Derita Warga Palestina Kian Bertambah
Langkah itu kemungkinan besar juga akan disambut baik oleh Ankara, yang sering berupaya memposisikan dirinya sebagai perantara antara timur dan barat.
Tokoh penting Hamas seperti Osama Hamdan, Taher al-Nunu, dan lainnya yang sering ditampilkan di media berita telah tinggal di Istanbul selama lebih dari sebulan.
Kehadiran mereka yang diperpanjang di Turki menandai perubahan dari kunjungan-kunjungan sebelumnya, yang biasanya terbatas pada kunjungan singkat.
Diperkirakan keselamatan pribadi pimpinan Hamas kini menjadi perhatian utama bagi kelompok tersebut, yang telah menyaksikan tewasnya dua pemimpin dalam waktu kurang dari empat bulan.