internasional

All Eyes on Jabalia Camp: Pengungsi dan Relawan Medis di Gaza Utara Jadi Sasaran Tembak Militer Israel

Minggu, 3 November 2024 | 14:16 WIB
Kamp Jabalia sehabis digempur Israel (Los Angeles Times)

“Kalaupun ada yang mau ke selatan, tidak bisa karena tidak ada jalan yang aman,” kata Ramadan.

Pasukan darat Israel telah mengepung tiga wilayah seperti Beit Lahiya, Beit Hanoun dan kamp pengungsi Jabalia  yang berada di wilayah utara Gaza, tempat diperkirakan terdapat sekitar 75.000 orang.

Namun kenyataan bagi hampir semua 400.000 orang yang terjebak di wilayah utara Gaza, dan mereka semua tak bisa keluar dari sana.

Philippe Lazzarini, kepala badan bantuan PBB UNRWA, mengajukan permohonan darurat pada tanggal 22 Oktober.

 “Mohon untuk gencatan senjata segera, bahkan untuk beberapa jam, untuk memungkinkan perjalanan kemanusiaan yang aman bagi keluarga yang ingin meninggalkan daerah tersebut dan mencapai tempat yang lebih aman” tegas Lazzarini.

Baca Juga: PBB: Gaza Utara Memasuki Momen Paling Gelap, Penduduk Jadi Sasaran Tembak Militer Israel

Tidak ada tanggapan dari otoritas Israel, yang posisi resminya tidak berurusan dengan UNRWA, yang sejauh ini merupakan badan bantuan terbesar di Gaza.

Jumlah bantuan yang mencapai Gaza utara telah sangat dibatasi sejak dimulainya perang pada 7 Oktober tahun lalu.

Sekarang jumlah pasokan bantuan yang memasuki seluruh jalur telah mencapai titik terendah, dan hampir tidak ada yang mencapai wilayah utara.

Badan koordinasi urusan kemanusiaan PBB, OCHA, melaporkan bahwa, hingga Kamis, "tidak ada toko roti atau dapur umum di Gaza utara yang beroperasi, dan hanya dua dari 20 titik layanan kesehatan dan dua rumah sakit yang tetap beroperasi, meskipun sebagian".

“Karena tidak ada listrik atau bahan bakar yang diizinkan sejak 1 Oktober, hanya dua dari delapan sumur air di kamp pengungsi Jabalia yang masih berfungsi, keduanya hanya berfungsi sebagian,” kata OCHA.

Pengungsi Jabaliya bingung hendak kemana (+972 Magazine)

Dalam pernyataan darurat pada hari Jumat, kepala OCHA dan 14 badan PBB dan bantuan independen lainnya membunyikan peringatan bahwa wilayah itu berada di ambang jurang kehancuran.

"Situasi yang terjadi di Gaza utara sangat mengerikan," kata seruan tersebut. "Seluruh penduduk Palestina di Gaza utara berada dalam risiko besar meninggal karena penyakit, kelaparan, dan kekerasan."

Fasilitas kesehatan yang tersisa di dalam zona yang dikepung, yaitu rumah sakit Kamal Adwan, al-Awda, dan RS Indonesia, telah menjadi sasaran.

Halaman:

Tags

Terkini