Saat ini, ekonomi Greenland masih sangat bergantung pada subsidi tahunan Denmark yang pada tahun lalu mencapai 530 juta euro—sekitar setengah dari anggaran wilayah tersebut.
Uni Eropa dapat mengantisipasi skenario ini dengan meningkatkan investasi di Greenland, sehingga mampu menyeimbangkan pengaruh ekonomi AS sekaligus memperkuat posisi tawar wilayah tersebut.
Opsi 4: Pengerahan Pasukan Eropa
Opsi paling tegas sekaligus tercepat adalah pengerahan pasukan militer Eropa ke Greenland.
Menurut analis Moreno Bertoldi dan Marco Buti dari lembaga think tank Bruegel, kehadiran pasukan Eropa akan membuat invasi militer AS jauh lebih rumit.
Langkah ini juga akan mengirimkan sinyal kuat tentang komitmen Uni Eropa terhadap integritas teritorial Greenland.
Invasi AS dalam kondisi tersebut akan menjadi pukulan besar terhadap kredibilitas internasional Washington, karena melanggar aliansinya sendiri.
Opsi 5: Tekanan Opini Publik di AS
Selain jalur formal, Uni Eropa juga dapat memanfaatkan kekuatan opini publik.
Kampanye perdamaian besar-besaran di media sosial, termasuk menggandeng influencer dan komunitas anti-perang di AS, dapat menjadi alat tekanan yang efektif.
Dengan mendorong penolakan dari dalam negeri AS, diharapkan tekanan publik mampu memengaruhi senator Partai Republik dan pada akhirnya mengerem kebijakan agresif Donald Trump terhadap Greenland.
Dengan berbagai opsi tersebut, NATO dan Uni Eropa sejatinya tidak kehabisan cara untuk menghadang ambisi Washington.
Tantangannya kini terletak pada keberanian politik dan soliditas internal dalam menghadapi sekutu yang justru berpotensi menjadi sumber krisis.***