KLIK SAJA - Ribuan nyawa warga Palestina di Gaza masih berada di ujung tanduk.
Meski gencatan senjata rapuh kini mulai berlaku, sekitar 15.000 pasien masih membutuhkan evakuasi medis darurat, menurut data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pada Rabu (15/10), WHO mengoordinasikan konvoi medis pertama yang keluar dari Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober.
Sebanyak 41 pasien bersama 145 pendamping dievakuasi menuju rumah sakit di luar negeri melalui perlintasan Kerem Shalom di Israel.
Dari sana, mereka dibawa menggunakan ambulans dan bus menuju Yordania, tempat sebagian pasien kini menjalani perawatan.
WHO menyerukan agar jumlah evakuasi medis ditingkatkan secara signifikan, mengingat ribuan warga sakit dan terluka masih menunggu bantuan.
Badan PBB itu berharap dapat kembali menggunakan perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir untuk mengevakuasi pasien, seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.
Namun, Israel menegaskan bahwa perbatasan Rafah akan tetap ditutup sampai Hamas memenuhi komitmennya dalam kesepakatan gencatan senjata, yaitu dengan mengembalikan jenazah para sandera yang telah meninggal.
Sejak Mei 2024, Israel telah menutup sisi perbatasan Gaza–Mesir setelah mengambil alih kendali wilayah tersebut di tengah perang.
Dalam konferensi pers pada Kamis, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, menekankan bahwa langkah paling efektif untuk menyelamatkan nyawa adalah mengizinkan pasien Gaza dirawat di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, seperti yang biasa dilakukan sebelum perang.
Para pejabat tinggi Uni Eropa dan menlu dari lebih dari 20 negara—termasuk Inggris—telah menyuarakan dukungan terhadap gagasan ini, bahkan menawarkan bantuan finansial, tenaga medis, serta peralatan kesehatan.
Menurut Dr. Fadi Atrash, CEO Rumah Sakit Augusta Victoria di Bukit Zaitun, Yerusalem:
“Ratusan pasien dapat dirawat dengan cepat dan efisien jika jalur ini kembali dibuka menuju jaringan rumah sakit Yerusalem Timur dan rumah sakit di Tepi Barat.”