China juga menyumbang sekitar 70% pasokan global logam magnetik yang digunakan pada motor mobil listrik.
Dominasi ini tidak terjadi begitu saja — Beijing telah membangun kapasitas pengolahan global, mengembangkan sumber daya manusia unggul, serta jaringan riset dan pengembangan yang selangkah lebih maju dibanding pesaingnya.
Negara Lain Belum Siap Menyaingi
Amerika Serikat dan beberapa negara lain memang tengah gencar berinvestasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap China dalam pasokan mineral tanah jarang atau Rare earth mineral.
Namun, jalan menuju kemandirian masih panjang.
Australia disebut-sebut sebagai penantang potensial, karena memiliki cadangan besar tanah jarang.
Sayangnya, infrastruktur produksinya belum matang, membuat biaya pengolahan di negara tersebut masih tinggi.
Langkah pembatasan terbaru ini juga memperluas kebijakan yang telah diumumkan Beijing pada April lalu, yang sempat menyebabkan kelangkaan global, sebelum serangkaian kesepakatan dengan Eropa dan AS membantu meredakan krisis pasokan.
Data resmi terbaru menunjukkan, ekspor mineral tanah jarang China pada September turun lebih dari 30% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kendati demikian, para analis menilai bahwa perekonomian China tidak akan terlalu terdampak oleh penurunan ekspor ini, mengingat posisi dominan negara tersebut dalam rantai pasok global tetap sulit digantikan.***