Analisis Pidato Donald Trump di Sidang Umum PBB yang Vulgar, Sombong dan Tak Berbasis Data

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Kamis, 25 September 2025 | 00:00 WIB
Donald Trump saat berpidato dalam sidang Umum PBB (NPR)
Donald Trump saat berpidato dalam sidang Umum PBB (NPR)

Kritik Trump terhadap Eropa jelas memiliki sisi kultural, dengan keyakinan bahwa imigrasi tak terkendali mengancam apa yang ia anggap sebagai warisan Yudeo-Kristen Eropa.

Tidak mengherankan, Trump memimpin pemerintahan yang secara terbuka menunjukkan identitas religiusnya. “Mari kita lindungi kebebasan beragama,” ujarnya kepada PBB, “termasuk bagi agama yang paling banyak dianiaya di dunia saat ini—yaitu Kristen.”

Dalam isu kebijakan yang lebih spesifik, Trump menyampaikan peringatan tegas mengenai perang Rusia di Ukraina.

Ia mengatakan penolakan Presiden Putin untuk mengakhiri konflik “tidak membuat Rusia terlihat baik.” Trump menegaskan AS siap memberlakukan “rangkaian tarif yang sangat kuat” untuk mengakhiri pertumpahan darah.

Namun, ia menekankan bahwa negara-negara Eropa harus berhenti membeli energi dari Rusia, sambil mengklaim baru mengetahui dua minggu lalu bahwa sebagian masih melakukannya.

Faktanya, hanya Hongaria dan Slovakia yang masih menjadi pembeli utama minyak Rusia di Eropa.

Para diplomat mengatakan Trump sengaja menggunakan alasan ini untuk menghindari pemberlakuan sanksi sekunder terhadap India dan Tiongkok, dua negara yang justru membeli minyak Rusia dalam jumlah besar dan murah—keduanya disebut langsung oleh Trump.

Mungkin yang lebih penting dari pidatonya adalah unggahan media sosial yang ia buat tak lama setelahnya, di mana untuk pertama kalinya ia menyatakan bahwa Ukraina bisa berada dalam posisi untuk merebut kembali seluruh wilayahnya.

Pernyataan Trump yang menyepelekan Rusia sebagai “macan kertas” dan bukan “kekuatan militer sejati” jelas akan menyakitkan bagi Presiden Putin, yang sensitif terhadap anggapan bahwa negaranya bukan pemain global.

Para diplomat menilai ini adalah bukti terbaru dari pergeseran Trump menuju sikap yang lebih kritis terhadap Rusia.

Namun, kata-kata Trump tetap perlu disikapi hati-hati. Ia terdengar optimistis hanya beberapa saat setelah bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di PBB.

 Ia juga menyebut bahwa Ukraina bisa merebut kembali wilayahnya dengan dukungan Uni Eropa dan NATO—tanpa menyebut keterlibatan Amerika Serikat.

Padahal, bukti selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perang ini adalah perang kelelahan jangka panjang, dan Ukraina mustahil merebut kembali wilayah dari Rusia tanpa dukungan militer besar-besaran dari AS.

Singkatnya, pidato ini mencerminkan Trump tanpa penyaringan—pembelaan terhadap Amerika dan negara-bangsa, serangan terhadap multilateralisme dan globalisme, serta aliran ucapan penuh klaim meragukan.

Tujuh tahun lalu, audiens Trump di PBB sempat menertawakan pernyataannya yang sering tak sesuai fakta. Tahun ini, mereka lebih banyak mendengarkan dalam diam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X